PONTIANAK, KP – Langkah pasangan ganda campuran Indonesia, Rehan Naufal Kusharjanto/Melati Daeva Oktavianti, terhenti di semifinal polytron Pontianak Indonesia Masters 2026. Mereka harus mengakui keunggulan pasangan China, Liao Pin Yi/Zhang Jia Han, dalam pertandingan yang berlangsung di GOR Terpadu Ahmad Yani Pontianak, Sabtu (5/9/2026).
Rehan/Melati yang menjadi unggulan kelima kalah dalam dua gim langsung dengan skor 18-21, 18-21. Hasil tersebut membuat perjalanan pasangan baru ini di turnamen level Super 100 berakhir di babak empat besar.
Pertandingan berlangsung cukup ketat. Rehan/Melati sempat berusaha menjaga permainan dan memberikan tekanan kepada lawan. Namun, pasangan China mampu merespons perubahan situasi di lapangan dan memanfaatkan sejumlah kesalahan yang dilakukan wakil Indonesia.
Melati mengatakan kualitas pemain China, baik junior maupun senior, memang tidak perlu diragukan. Menghadapi pasangan China dalam turnamen ini menjadi pengalaman penting bagi dirinya dan Rehan yang baru pertama kali berpasangan dalam pertandingan resmi.
“Kita tahu pemain China, mau junior maupun senior, punya kualitas yang sangat bagus. Ini jadi pelajaran buat kita sebagai partner baru. Dari permainan tadi kita tahu kelemahan kita di mana dan bisa jadi evaluasi kita,” kata Melati.
Menurutnya, salah satu persoalan yang terlihat dalam pertandingan tersebut adalah kemampuan beradaptasi ketika lawan mengubah pola permainan. Saat Rehan/Melati berada dalam posisi unggul, Liao Pin Yi/Zhang Jia Han mampu mengubah permainan sehingga tekanan berbalik kepada pasangan Indonesia.
“Mereka merubah pola permainan saat kita leading dan kita lambat untuk adaptasi dengan pola permainan mereka. Jadinya kita banyak melakukan kesalahan sendiri,” ujarnya.
Rehan mengakui pertandingan tersebut memberikan gambaran lebih jelas mengenai hal-hal yang perlu mereka benahi sebagai pasangan baru. Menurutnya, perbedaan antara latihan dan pertandingan resmi membuat sejumlah kekurangan baru terlihat ketika menghadapi lawan dengan tekanan kompetisi.
“Benar kata Kak Meli, kita jadi tahu yang lemah kita di mana. Next kita bakal perbaiki dan kita tutupi itu semua,” ujar Rehan.
Ia menambahkan, pertandingan semifinal tersebut merupakan debut pertama mereka sebagai pasangan dalam sebuah turnamen. Karena itu, pengalaman bertanding bersama menjadi modal penting untuk membangun chemistry sekaligus mengetahui karakter permainan masing-masing.
“Ini debut pertama kita. Saat latihan ya biasalah, lebih kelihatan saat pertandingan. Jadi tahu apa yang harus dibenahi, apa kelebihan kita makin ditambah, dan kekurangan kita harus ditutup,” katanya.
Kekalahan tersebut menjadi bahan evaluasi bagi Rehan/Melati untuk memperbaiki permainan ke depan. Keduanya menilai masih banyak aspek yang harus dikembangkan, terutama dalam hal adaptasi terhadap perubahan pola permainan lawan dan menjaga konsistensi ketika berada dalam tekanan.
Meski gagal melaju ke final, perjalanan hingga semifinal menjadi pengalaman berharga bagi pasangan baru tersebut. Rehan dan Melati kini memiliki gambaran lebih jelas mengenai kekuatan dan kelemahan mereka setelah menjalani pertandingan kompetitif bersama.
Evaluasi tersebut diharapkan menjadi bekal untuk membangun permainan yang lebih solid pada turnamen-turnamen berikutnya. Bagi Rehan/Melati, semifinal Indonesia Masters 2026 bukan sekadar hasil akhir, tetapi juga bagian dari proses membentuk pasangan yang lebih matang dan kompetitif. (*/Red)