PONTIANAK, KP – Produk tenun khas Pontianak mendapat kesempatan memperluas pasar ke tingkat internasional melalui partisipasi Kampung Wisata Tenun Khatulistiwa dalam ajang Southeast Asian Tourist Guides Conference (SEATGC) 2026 di Sibu, Sarawak, Malaysia, pada 14 Oktober 2026.
Keikutsertaan tersebut difasilitasi PT Pertamina Patra Niaga melalui Integrated Terminal (IT) Pontianak sebagai bagian dari upaya mendorong UMKM dan potensi wisata berbasis budaya lokal agar semakin dikenal di pasar mancanegara.
Melalui kegiatan ini, Kampung Wisata Tenun Khatulistiwa tidak hanya memperkenalkan produk tenun, tetapi juga mempromosikan potensi wisata budaya di Kelurahan Batu Layang, Pontianak. Ajang internasional tersebut menjadi ruang untuk membangun jejaring dengan pelaku industri pariwisata dari lima negara di Asia Tenggara.
Partisipasi ini merupakan bagian dari program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) Pertamina, yakni Integrasi Wisata Batulayang Berbudaya. Program tersebut diarahkan untuk mengembangkan potensi wisata setempat dengan mengangkat kekayaan budaya dan daya tarik destinasi lokal.
SEATGC merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan Sarawak Tourist Guides Association. Pertemuan ini mempertemukan para pelaku pariwisata dari berbagai negara di kawasan Asia Tenggara, sekaligus membuka peluang promosi destinasi dan produk lokal kepada pasar internasional.
Kampung Wisata Tenun Khatulistiwa yang berlokasi di Kelurahan Batu Layang memiliki potensi wisata yang berkaitan erat dengan identitas budaya Pontianak, termasuk keberadaan Tugu Khatulistiwa sebagai salah satu ikon kota. Melalui promosi di Malaysia, produk tenun dan destinasi wisata tersebut diharapkan semakin dikenal oleh wisatawan maupun pelaku industri pariwisata mancanegara.
Local Hero Kampung Wisata Tenun Khatulistiwa, Kurniati, mengapresiasi dukungan Pertamina Patra Niaga IT Pontianak yang telah memberikan kesempatan kepada kelompoknya untuk memperkenalkan produk hingga ke luar negeri.
“Dukungan ini mewujudkan mimpi kami untuk membawa produk tenun khas ke pameran luar negeri. Pada 2022, Pertamina membawa produk kami ke ajang Tong Tong Fair di Belanda. Kali ini, pada 2026, saya mendapat kesempatan untuk hadir langsung sebagai delegasi dan mempromosikan karya mitra binaan,” ujar Kurniati.
Menurutnya, kesempatan tersebut menjadi langkah penting bagi pengembangan usaha tenun lokal. Selain memperluas pengenalan produk, keterlibatan langsung dalam ajang internasional juga membuka peluang untuk membangun hubungan dengan pelaku pariwisata dari negara lain.
Manager IT Pontianak, Adi Wahyu Christianto, mengatakan pendampingan terhadap Kampung Wisata Tenun Khatulistiwa merupakan bagian dari komitmen Pertamina dalam mengembangkan potensi masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui sektor pariwisata berbasis budaya.
“Kampung Wisata Tenun Khatulistiwa telah dibina oleh Pertamina sejak 2020. Program ini menjadi salah satu fondasi pengembangan integrasi wisata di Kelurahan Batu Layang pada 2026, yang juga mencakup sejumlah destinasi, seperti Tugu Khatulistiwa, Bukit Rel, dan Makam Sultan Abdurrahman,” jelas Adi.
Pengembangan integrasi wisata tersebut diharapkan dapat menghubungkan produk kerajinan lokal dengan destinasi bersejarah dan budaya di Batu Layang. Dengan demikian, wisatawan tidak hanya menikmati objek wisata, tetapi juga mengenal produk tenun dan masyarakat yang berada di balik proses pembuatannya.
Keikutsertaan Kampung Wisata Tenun Khatulistiwa dalam SEATGC 2026 juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) ke-8, yakni mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan serta pekerjaan yang layak.
Melalui promosi produk dan destinasi lokal, peluang pasar bagi pelaku usaha diharapkan semakin terbuka. Pengembangan wisata berbasis budaya juga berpotensi memperluas kesempatan usaha masyarakat sekaligus menjaga keberlangsungan tradisi tenun yang menjadi bagian dari identitas daerah.
Inisiatif ini turut sejalan dengan Asta Cita ke-8 Presiden Prabowo Subianto, khususnya semangat menjaga keselarasan kehidupan dengan alam dan budaya.
Melalui pendampingan dan promosi yang berkelanjutan, Pertamina Patra Niaga berharap kekayaan budaya tenun serta potensi wisata Kelurahan Batu Layang semakin dikenal, dilestarikan, dan dikembangkan sebagai sumber kesejahteraan masyarakat.
Partisipasi di Malaysia ini menjadi salah satu langkah untuk membawa potensi lokal Pontianak ke panggung internasional. Dengan dukungan berkelanjutan dan perluasan jejaring,
Kampung Wisata Tenun Khatulistiwa diharapkan mampu mengembangkan usaha sekaligus memperkuat daya tarik wisata budaya Kalimantan Barat. (*/Red)