Calvin/Desiree Tertekan Mental, Akui Atmosfer Pendukung di Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026 Luar Biasa

Pasangan ganda campuran Jerman, Calvin Devereux/Desiree Toepffer

PONTIANAK, KP – Pasangan ganda campuran Jerman, Calvin Devereux/Desiree Toepffer, mengakui faktor mental menjadi salah satu kendala utama saat menghadapi wakil Indonesia Bagas Maulana/Indah Cahaya Sari Jamil pada Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026. Selain kesulitan menemukan permainan terbaik, pasangan Jerman tersebut juga harus beradaptasi dengan kondisi lapangan yang memengaruhi pola permainan mereka.

Calvin/Desiree mengaku gagal mengendalikan permainan sejak gim pertama. Berbagai upaya untuk mengubah keadaan tidak berjalan sesuai harapan sehingga mereka semakin kesulitan menjaga fokus.

“Menurut saya, penonton hari ini luar biasa. Tapi kami benar-benar sangat lelah. Kami tidak bisa masuk ke dalam permainan sama sekali. Di set pertama, kami benar-benar kehilangan kendali. Kami mencoba segala cara, tetapi secara mental kami kesulitan,” ujar Calvin seusai pertandingan.

Memasuki gim kedua, permainan mereka mulai membaik. Fokus yang lebih terjaga membuat sejumlah pola permainan dapat dijalankan, meski kekuatan lawan tetap menjadi tantangan besar.

“Di set kedua, kami mulai sedikit lebih bisa masuk ke dalam permainan. Namun, lawan memang sangat kuat. Mereka adalah pemain yang sangat, sangat berbakat,” katanya.

Menurut mereka, persoalan mental semakin terasa ketika harus menyesuaikan taktik akibat kondisi lapangan. Perubahan arah permainan atau drift membuat pola yang sebelumnya direncanakan tidak dapat diterapkan secara maksimal.

“Kami berusaha tetap menjalankan rencana permainan kami. Namun, di set pertama kami sedikit mengalami masalah dengan drift atau arah pergerakan permainan, sehingga kami tidak bisa bermain dengan gaya yang kami inginkan,” ungkapnya.

Situasi tersebut kemudian memaksa pasangan Jerman mengubah taktik di tengah pertandingan. Penyesuaian itu justru menambah tekanan dan membuat fokus mereka semakin mudah terganggu.

“Kami kemudian harus menyesuaikan taktik. Tentu saja, hal itu menambah tekanan secara mental. Akibatnya, kami semakin kesulitan untuk fokus, kemudian kehilangan fokus, mulai merasa kesal, dan akhirnya situasinya menjadi semakin buruk,” tuturnya.

Ketertinggalan yang cukup jauh pada gim pertama bahkan sempat membuat mereka merasa sulit untuk mempertahankan permainan. Namun, pada gim kedua Calvin/Desiree mampu bangkit dan mengurangi kesalahan yang dilakukan.

“Di set pertama, pada suatu titik kami merasa sudah terlalu jauh tertinggal sehingga rasanya tidak masuk akal untuk terus memaksakan permainan. Di set kedua, fokus kami lebih baik. Kami mencoba lagi dan melakukan jauh lebih sedikit kesalahan,” katanya.

Variasi serangan yang mulai berkembang menjadi salah satu hal positif yang mereka rasakan. Menurutnya, sejumlah bagian dari rencana permainan akhirnya dapat kembali dijalankan dengan lebih baik.

“Serangan kami juga lebih bervariasi. Jadi, sebenarnya sebagian dari rencana permainan kami bisa berjalan dengan baik,” ujarnya.

Meski harus menghadapi tekanan selama pertandingan, Calvin/Desiree justru memberikan pujian terhadap atmosfer yang tercipta di GOR Terpadu Ahmad Yani Pontianak. Antusiasme penonton dinilai memberikan pengalaman berbeda dibandingkan pertandingan yang biasa mereka jalani di Eropa.

“Benar-benar luar biasa. Sangat menyenangkan bermain di sini. Kami pasti ingin kembali lagi,” kata mereka.

Dukungan penonton yang begitu besar bahkan disebut memberikan energi tersendiri bagi pemain. Mereka menilai budaya masyarakat Indonesia dalam menyaksikan pertandingan olahraga jauh lebih intens dibandingkan atmosfer yang biasa ditemui di Eropa.

“Bermain dengan dukungan dan antusiasme sebesar ini sangat memberikan energi bagi kami. Karena misalnya di Eropa, kami tidak mendapatkan atmosfer seperti ini. Indonesia memiliki budaya menonton dan mendukung pertandingan yang berbeda,” ungkapnya.

Calvin/Desiree menilai penonton Pontianak benar-benar mampu menghidupkan suasana pertandingan. Bagi mereka, atmosfer tersebut menjadi salah satu pengalaman menarik selama tampil di Indonesia.

“Di sini suasananya jauh lebih intens. Orang-orang benar-benar hidup dalam pertandingan, dan bagi kami itu jauh lebih menyenangkan,” pungkasnya.(Rif)

Kapuas Post

Kapuas Post merupakan media lokal Kalimantan Barat yang mencoba eksis kembali menjadi media online

Lebih baru Lebih lama

ads

ads

نموذج الاتصال