PONTIANAK, KP – Universitas Panca Bhakti (UPB) Pontianak terus mendorong peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, khususnya di bidang fisioterapi, melalui pendidikan dan pelatihan berstandar internasional. Komitmen tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Clinical Dry Needling Certificate Batch 10 yang berlangsung pada 19–20 Agustus 2026.
Kegiatan ini menjadi bagian dari program pengembangan kompetensi dosen sekaligus upaya memperluas akses terhadap pendidikan berkelanjutan bagi fisioterapis di Kalimantan Barat (Kalbar). Pelaksanaan sertifikasi merupakan hasil kolaborasi UPB dengan Reframing Physiotherapy sebagai penyelenggara pendidikan berkelanjutan serta Primephysio Training UK, lembaga pelatihan fisioterapi berbasis di Inggris.
Sebanyak 32 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas 30 fisioterapis dan dua dokter yang berasal dari sejumlah daerah, baik di Kalimantan Barat maupun luar daerah. Peserta dari Kalbar antara lain berasal dari Pontianak dan Singkawang, sementara peserta lainnya datang dari Kalimantan Tengah dan Lampung.
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UPB, Prof. Dr. Ir. Agus Salim Masulili, M.P., mengatakan, kegiatan sertifikasi tersebut telah menjadi bagian dari perencanaan kerja UPB tahun 2026. Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, tetapi juga perlu membuka ruang bagi peningkatan kompetensi dosen dan masyarakat.
“Peningkatan kompetensi ini sangat penting bagi dosen-dosen kami dan juga bagi masyarakat. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan bisa menghasilkan fisioterapis yang memiliki kemampuan berstandar internasional,” ujarnya.
Menurut Prof. Agus, perkembangan ilmu dan teknologi di bidang fisioterapi berlangsung cukup dinamis. Karena itu, dosen perlu terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan agar kompetensi yang dimiliki tetap relevan dengan kebutuhan dunia profesi.
Pengetahuan dan keterampilan tersebut nantinya juga dapat diteruskan kepada mahasiswa melalui proses pembelajaran. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya mendapatkan kompetensi berdasarkan kurikulum pendidikan, tetapi juga memperoleh wawasan mengenai perkembangan teknik fisioterapi yang digunakan dalam praktik profesional.
Sertifikasi internasional juga dinilai memberikan nilai tambah bagi institusi pendidikan, terutama dalam mendukung peningkatan mutu program studi. Kegiatan yang menghadirkan lembaga pelatihan dari luar negeri tersebut menjadi salah satu bentuk penguatan kapasitas akademik sekaligus mendukung kebutuhan pengembangan institusi.
“Sertifikat ini sangat berpengaruh terhadap institusi. Bagi program studi di lingkungan ilmu kesehatan, kegiatan seperti ini berpengaruh terhadap akreditasi, apalagi kegiatan ini bersifat internasional,” kata Prof. Agus.
Dorong Kemajuan Fisioterapi di Kalimantan Barat Pelaksanaan pelatihan Clinical Dry Needling berstandar internasional di Kalbar juga mendapat apresiasi dari Pengurus Daerah Ikatan Fisioterapi Indonesia (PD IFI) Kalbar.
Ketua PD IFI Kalbar periode 2022–2027, Stella Ricardona, menilai kegiatan tersebut menjadi peluang penting bagi fisioterapis daerah untuk meningkatkan kemampuan sekaligus memperoleh sertifikasi bertaraf internasional.
“Kami cukup mengapresiasi adanya pelatihan bertaraf internasional di Kalbar. Kami berharap fisioterapis di Kalbar semakin kompeten dan bersertifikasi internasional,” ujarnya.
Stella mengatakan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia akan berpengaruh terhadap perkembangan layanan fisioterapi di Kalbar. Saat ini, layanan fisioterapi telah berkembang di sejumlah daerah, antara lain Pontianak, Singkawang, Sanggau, Ketapang, Kapuas Hulu, dan Sintang.
Perkembangan tersebut juga diikuti semakin beragamnya kebutuhan layanan fisioterapi. Salah satu bidang yang cukup berkembang adalah fisioterapi olahraga, seiring meningkatnya aktivitas olahraga masyarakat dan penyelenggaraan berbagai kegiatan olahraga.
“Olahraga yang paling ramai saat ini. Setiap ada kegiatan olahraga wajib ada tenaga yang bertugas dan bertanggung jawab pada kegiatan tersebut,” katanya.
Menurut Stella, keberadaan tenaga fisioterapi dengan kompetensi yang terus diperbarui menjadi bagian penting dalam memberikan layanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan profesi.
Bekali Peserta dengan Teknik dan Aspek Keselamatan
General Manager sekaligus Chief Financial Officer (CFO) Reframing Physiotherapy, Egy Haryati, menjelaskan bahwa Clinical Dry Needling Certificate Batch 10 merupakan bagian dari upaya menyediakan pendidikan berkelanjutan bagi fisioterapis Indonesia.
Reframing Physiotherapy atau PT Elevasi Reframing Indonesia menjadi penyelenggara lokal berbagai kursus, pelatihan, dan sertifikasi fisioterapi berstandar internasional dari Primephysio Training UK.
Kolaborasi dengan UPB dilakukan untuk memperluas akses pendidikan profesi sehingga fisioterapis di daerah memiliki kesempatan memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang terus berkembang.
“Kami ingin memajukan bersama universitas untuk memajukan fisioterapi di Indonesia agar ilmunya sama dan setara dengan wilayah-wilayah lainnya. Jadi kami dapat melakukan tindakan yang ter-update untuk pasien,” jelas Egy.
Clinical Dry Needling merupakan salah satu teknik yang dapat digunakan dalam praktik fisioterapi dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan pasien serta aspek anatomi. Karena itu, penerapannya harus dilakukan berdasarkan pertimbangan klinis dan tidak dapat dilakukan secara sembarangan.
“Untuk tekniknya kami sesuaikan dengan kebutuhan pasien, kemudian kami sesuaikan lagi dengan anatominya. Kami juga harus melihat alasan medis mengapa tindakan itu dilakukan,” katanya.
Egy menjelaskan, teknik tersebut dapat diaplikasikan dalam penanganan sejumlah kondisi yang berkaitan dengan jaringan otot, tendon, dan ligamen. Namun, pemilihan tindakan tetap harus didasarkan pada pemeriksaan dan kebutuhan klinis pasien.
Untuk memastikan peserta memahami aspek keselamatan, rangkaian pelatihan tidak hanya dilakukan melalui praktik langsung.
Sebelumnya, peserta telah mengikuti kelas secara daring dan menyelesaikan tugas sebagai bagian dari persiapan.
Pada pelaksanaan di UPB, peserta kemudian menjalani sesi praktik secara langsung. Aspek keselamatan pasien menjadi salah satu perhatian utama dalam proses pelatihan.
“Kami memastikan mereka benar-benar safety first, memahami keamanan, dan memahami alasan medis dalam melakukan tindakan,” ujar Egy.
Dua Dosen UPB Ikuti Sertifikasi
Pelaksanaan sertifikasi ini juga menjadi bagian dari pengembangan kompetensi tenaga pendidik di UPB. Ketua Panitia Clinical Dry Needling Certificate Batch 10, Listya Triandari, Ftr., M.Fis., mengatakan, UPB mengikutsertakan dua dosen dalam kegiatan tersebut.
Keikutsertaan dosen diharapkan dapat memperkuat kapasitas akademik sekaligus memberikan manfaat terhadap proses pembelajaran mahasiswa di Fakultas Ilmu Kesehatan UPB.
“Untuk mahasiswa atau dosen di UPB sendiri ada yang ikut. Kami menerjunkan dua orang dosen untuk mengikuti kegiatan itu. Ini memang menjadi bagian dari pengembangan kompetensi dosen di bidang pendidikan dan pelatihan,” jelas Listya.
Ia mengatakan peserta Batch 10 berasal dari sejumlah daerah dengan mayoritas peserta berasal dari Kalimantan Barat. Selain itu, terdapat peserta dari wilayah Kalimantan lainnya dan Lampung.
Bagi UPB, pelaksanaan kegiatan tersebut juga membuka peluang pengembangan kerja sama yang lebih luas dengan Reframing Physiotherapy dalam bidang pendidikan berkelanjutan.
Listya berharap kolaborasi tidak berhenti pada sertifikasi Clinical Dry Needling. Menurutnya, masih banyak bidang fisioterapi lain yang dapat dikembangkan melalui program pendidikan dan pelatihan serupa, termasuk fisioterapi kesehatan wanita dan berbagai bidang keilmuan lainnya.
“Harapannya kerja sama ini akan terus berlanjut, khususnya dengan Reframing Physiotherapy untuk bisa menyelenggarakan pelatihan lainnya. Jadi tidak hanya tentang Clinical Dry Needling, tetapi masih ada pelatihan untuk kesehatan wanita dan banyak bidang lain yang bisa kita kembangkan,” ujarnya.
Ke depan, UPB juga berharap kegiatan pendidikan berkelanjutan tersebut dapat menjangkau peserta yang lebih luas. Tidak hanya fisioterapis dari Kalimantan Barat dan Pulau Kalimantan, tetapi juga tenaga profesional dari berbagai daerah di Indonesia.
“Harapannya bisa dilaksanakan lagi dengan cakupan peserta yang lebih luas, tidak hanya di Kalimantan Barat dan tidak hanya di Pulau Kalimantan, tetapi juga di Indonesia,” kata Listya.
Pelaksanaan Clinical Dry Needling Certificate Batch 10 di UPB menjadi langkah untuk memperkuat ekosistem pendidikan fisioterapi di daerah. Melalui kolaborasi perguruan tinggi, organisasi profesi, dan lembaga pelatihan internasional, akses terhadap pengembangan kompetensi diharapkan semakin terbuka.
Bagi Kalimantan Barat, kehadiran pelatihan berstandar internasional juga menjadi peluang untuk memperkuat kualitas tenaga fisioterapi lokal.
Pada akhirnya, peningkatan kompetensi tersebut diharapkan dapat mendukung kualitas layanan kepada masyarakat sekaligus memperkuat mutu pendidikan fisioterapi di perguruan tinggi. (*/Red)