![]() |
| Embung yang dibangun untuk mengatasi Karhutla di Kubu Raya |
KUBU RAYA, KP - Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kubu Raya semakin diperkuat melalui langkah terpadu lintas sektor. Polres Kubu Raya bersama Pemerintah Kabupaten Kubu Raya dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan strategi mitigasi dengan membangun 84 titik embung serta melakukan normalisasi parit dan sungai di sejumlah wilayah rawan.
Langkah ini difokuskan di sepanjang kawasan Sungai Raya Dalam, Kecamatan Sungai Raya hingga Desa Punggur Kecil, Kecamatan Sungai Kakap. Wilayah tersebut dipilih berdasarkan pemetaan yang menunjukkan tingkat kerawanan tinggi terhadap karhutla, terutama pada lahan gambut yang rentan terbakar saat musim kering.
Penguatan mitigasi ini menjadi respons atas peringatan cuaca ekstrem yang dikaitkan dengan fenomena La Nina Gozila. Kondisi tersebut diprediksi memicu ketidakpastian iklim, di mana curah hujan tinggi dapat diikuti fase kering yang panjang sehingga meningkatkan risiko kebakaran, khususnya di kawasan gambut.
Secara teknis, fenomena ini ditandai dengan penurunan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah yang berlangsung lebih lama dari siklus normal. Dampaknya tidak hanya pada pola curah hujan, tetapi juga pada kestabilan kelembapan tanah, yang dalam kondisi tertentu dapat mempercepat pengeringan vegetasi setelah periode hujan.
Dalam konteks ini, pembangunan embung berfungsi sebagai cadangan air permanen yang dapat dimanfaatkan saat terjadi kebakaran, terutama di lokasi yang sulit dijangkau. Sementara itu, normalisasi parit dan sungai diarahkan untuk menjaga tinggi muka air tanah agar tetap stabil, sehingga lahan gambut tidak mudah mengering dan terbakar.
Kapolres Kubu Raya AKBP Kadek Ary Mahardika melalui Kasubsi Penmas Polres Kubu Raya, Aiptu Ade, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi mitigasi jangka panjang yang tidak hanya berfokus pada penanganan saat kebakaran terjadi, tetapi juga pencegahan sejak dini.
"Sinergitas antara Polres, Pemkab, dan BNPB dalam membangun 84 embung ini adalah langkah mitigasi jangka panjang. Kami tidak ingin sekadar memadamkan api, tetapi mencegah api itu muncul. Normalisasi sungai juga memastikan ekosistem lahan gambut kita tetap basah meski di tengah cuaca ekstrem La Nina Gozila," ujarnya, Jumat (17/4/2026).
Ia menambahkan bahwa upaya ini turut melibatkan berbagai unsur, termasuk TNI, Manggala Agni, serta relawan pemadam kebakaran, guna memastikan kesiapan sarana dan prasarana dalam menghadapi potensi karhutla.
Selain itu, kepolisian juga mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar, terutama di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu. Dampak karhutla dinilai sangat luas, mulai dari gangguan kesehatan akibat kabut asap, terganggunya transportasi, hingga dampak ekonomi dan pendidikan.
"Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesadaran kolektif. Dampak karhutla sangat luas; mulai dari ISPA yang mengancam kesehatan anak-anak, gangguan transportasi udara dan darat akibat kabut asap, hingga lumpuhnya roda ekonomi dan terhentinya kegiatan belajar mengajar di sekolah," tegas Ade.
Polres Kubu Raya memastikan akan menindak tegas setiap pelaku pembakaran hutan dan lahan sesuai dengan hukum yang berlaku. Dengan dukungan infrastruktur air yang memadai serta partisipasi aktif masyarakat, pemerintah berharap Kubu Raya dapat menghadapi potensi dampak cuaca ekstrem dengan lebih siap dan meminimalkan kemunculan titik api.(*/Red)


