![]() |
| Instruktur YRA Jakarta berikan tips berkendara saat hujan |
JAKARTA, KP - Memasuki musim hujan, risiko berkendara bagi pengguna sepeda motor meningkat seiring dengan kondisi jalan yang licin, jarak pandang terbatas, serta potensi terjadinya aquaplaning. Situasi ini menuntut pengendara untuk lebih waspada dan mempersiapkan diri secara optimal agar tetap aman selama bermobilitas.
Guyuran air hujan yang langsung mengenai tubuh pengendara kerap mengganggu penglihatan dan konsentrasi. Selain itu, genangan air di permukaan jalan dapat memicu aquaplaning, yakni kondisi ketika ban kehilangan daya cengkeram terhadap aspal karena terlapisi air. Pada sepeda motor, kondisi ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kendaraan sulit dikendalikan dan berujung pada kecelakaan.
Instruktur Yamaha Riding Academy (YRA) Jakarta, Imanuel Satrio, menekankan bahwa keselamatan berkendara saat hujan tidak hanya bergantung pada teknik mengendarai motor, tetapi juga kesiapan fisik pengendara dan kondisi kendaraan itu sendiri. Penggunaan perlengkapan keselamatan menjadi langkah awal yang tidak boleh diabaikan. Jas hujan model setelan, helm dengan visor bening, sepatu anti air, serta sarung tangan diperlukan untuk menjaga kenyamanan sekaligus visibilitas selama perjalanan.
Selain perlengkapan, kondisi sepeda motor harus dipastikan dalam keadaan prima. Rem harus berfungsi optimal, ban tidak gundul dengan tekanan sesuai standar pabrikan, serta sistem kelistrikan dan lampu kendaraan bekerja dengan baik. Penutup bodi motor juga perlu diperhatikan agar tidak terbuka dan kemasukan air yang berpotensi menimbulkan korsleting.
Dalam kondisi jalan basah, pengendara disarankan mengurangi kecepatan, terutama saat melintasi genangan air, guna mencegah terjadinya aquaplaning. Menjaga jarak aman dengan kendaraan lain juga menjadi hal krusial, mengingat traksi ban terhadap permukaan jalan berkurang dan jarak pengereman menjadi lebih panjang. Situasi hujan yang kerap disertai jarak pandang terbatas menuntut pengendara lebih antisipatif terhadap perubahan kondisi lalu lintas di sekitarnya.
Teknik pengereman pun perlu disesuaikan. Pengereman sebaiknya dilakukan secara halus dan bertahap dengan memanfaatkan rem depan dan belakang secara seimbang. Pengendara juga dituntut untuk tetap fokus terhadap kondisi sekitar, mulai dari kendaraan lain, jalan berlubang, hingga pejalan kaki yang menyeberang secara tiba-tiba.
Dalam kondisi hujan yang terlalu deras, berhenti dan berteduh menjadi pilihan paling aman. Namun demikian, pengendara diimbau tidak berteduh di bawah jembatan atau terowongan karena dapat mengganggu arus lalu lintas dan membahayakan pengguna jalan lain. Selain itu, cuaca ekstrem juga berpotensi menimbulkan bahaya lain seperti pohon tumbang, banjir, hingga tanah longsor.
Imanuel Satrio menegaskan bahwa kesiapan pengendara dan kendaraan merupakan faktor utama dalam mencegah kecelakaan.
“Fisik pengendara dan kondisi motor merupakan poin utama dalam berkendara. Kedua hal tersebut harus dipastikan dalam keadaan prima untuk mengurangi potensi terjadinya kecelakaan atau mogok di jalan. Pengendara harus selalu mempersiapkan kendaraan dengan baik dan melakukan perawatan secara berkala di dealer dan bengkel resmi agar kondisi kendaraan selalu maksimal,” ujarnya.
Dengan kewaspadaan, persiapan yang matang, serta teknik berkendara yang tepat, pengendara sepeda motor diharapkan tetap dapat bermobilitas secara aman meski di tengah tantangan musim hujan.(*/Red)


