SLIDER

header ads

SATU Indonesia Awards 2020 Hadirkan Webinar Hidup Sehat Dengan Mudah

PONTIANAK - Berupaya menjalankan gaya hidup sehat bukanlah suatu hal yang mudah untuk sebagian orang. Saat ini, nyatanya tidak sedikit orang yang menunda niat menerapkan gaya hidup sehat.
 
Penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2019 kategori kelompok bidang kesehatan Ahmad Hasyim Wibisono dari Pedis Care pada Malam Penghargaan 10th SATU Indonesia Awards 2019
 
Padahal menjalankan gaya hidup sehat merupakan suatu keharusan. Apalagi dalam menjalankannya terbilang mudah dan sederhana jika diterapkan secara serius dan dilandasi tujuan untuk mendapatkan kesehatan yang lebih baik.
Dengan tema “Cara Mudah Menuju Gaya Hidup Sehat”, Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2020 bersama dengan Young On Top pada hari ini (27/6) mengadakan inspira webinar keempat kalinya. Hadir dalam diskusi virtual ini sutradara film merangkap pegiat olahraga Sigi Wimala dan penerima SATU Indonesia Awards 2019 kategori kelompok bidang kesehatan Ahmad Hasyim Wibisono dari Pedis Care (Pusat Perawatan Luka, Diabetes dan Stoma) yang dipandu oleh moderator Miss Indonesia 2007 sekaligus presenter televisi Kamidia Radisti.
Di tengah kesibukannya dalam mengurus suami, anak-anak, dan rumahnya, Sigi Wimala selalu berupaya menerapkan pola hidup sehat. Olahraga lari dan bersepeda yang kini digelutinya tidak hanya bertujuan menjaga kesehatan, tetapi juga menjadi bagian dari hidupnya.
“Saya suka olahraga tapi bukan untuk menurunkan berat badan. Ini sudah menjadi bagian dari hidup saya. Tidak hanya baik untuk kesehatan, olahraga juga memberikan dampak positif untuk menenangkan pikiran,” tuturnya.
Selain berolahraga, Sigi juga berbagi cerita tentang cara lainnya dalam menerapkan pola hidup sehat yakni dengan menghindari makanan yang berlemak dan rutin mengonsumsi makanan sehat seperti sayuran dan buah-buahan.

Kurangi Risiko Penyakit

Permasalahan kesehatan kerap menghantui setiap orang yang tidak menerapkan pola hidup sehat. Kurangnya aktivitas fisik dan pola makan yang buruk bukan tidak mungkin menjadi penyebab suatu penyakit.
Penyakit yang disebabkan oleh pola makan yang tidak teratur dan kurangnya aktivitas fisik adalah diabetes. Dalam kasus yang serius, diabetes dapat menimbulkan luka yang sulit sembuh, akibat tingginya kadar gula yang menghambat perbaikan jaringan tubuh dan tak jarang dapat mengakibatkan tindakan amputasi organ yang luka.
Fenomena luka pada penderita diabetes akhirnya membuat Ahmad Hasyim Wibisono, pria yang berprofesi sebagai dosen di Fakultas Keperawatan Universitas Brawijaya, tergerak untuk mendirikan Yayasan Pedis Care di kampung halamannya di Malang, Jawa Timur bersama dua rekan sesama perawat.
Melalui yayasan ini, Ahmad Hasyim Wibisono bersama timnya berkomitmen merawat dan menyembuhkan pasien penderita luka kronis akibat diabetes, kanker, atau stoma, sekaligus aktif memberi pendidikan dan penyuluhan seputar perawatan luka kronis.
“Guna meningkatkan peluang kesembuhan pasien, kami memanfaatkan teknologi pada perangkat ponsel pintar. Melalui sebuah aplikasi, kami bisa mengukur dimensi luka dengan lebih akurat, sehingga rasio kesembuhan luka kronis bisa meningkat lebih dari 80%. Bahkan bagi luka akibat diabetes, kesembuhan bisa mencapai 88% dengan rata-rata lama perawatan berkala selama 11 minggu yang tentu juga harus didukung dengan gaya hidup sehat pasiennya,” tuturnya.
Perlahan namun pasti, pasien luka kronis tak henti berdatangan dan mempercayakan perawatan mereka ke Yayasan Pedis Care yang memiliki harga pengobatan dan jasa perawatan luka kronis berkisar Rp400.000.
Namun, banyak pasien yang tidak memiliki cukup uang untuk melakukan pengobatan. Akhirnya, Pedis Care menerapkan sistem subsidi silang dengan memberikan potongan harga bagi pasien kurang mampu untuk setiap perawatannya.
Pedis Care juga aktif melakukan kerja sama dengan berbagai pihak, seperti badan amal hingga instansi kesehatan untuk menunjang biaya pengobatan pasien kurang mampu, sehingga mereka pun tidak perlu dipusingkan oleh biaya tinggi.
Komitmen dan semangat Pedis Care untuk meningkatkan kualitas kesehatan pasien luka kronis di Indonesia akhirnya mengantarkan Ahmad Hasyim Wibisono dan rekannya sebagai salah satu penerima apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU) Indonesia Awards tahun 2019 kategori kelompok bidang kesehatan.
Sama seperti tahun sebelumnya, SATU Indonesia Awards menjaring anak muda hingga ke seluruh pelosok Indonesia yang tak kenal lelah memberikan manfaat bagi sekitarnya. Apresiasi diberikan kepada lima anak bangsa atas setiap perjuangan di bidang Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, Teknologi serta satu kategori yaitu kelompok yang  mewakili bidang tersebut.
Pada tahun ini, Astra juga memberikan tambahan kategori apresiasi khusus kepada para pejuang tanpa pamrih di tengah pandemi COVID-19. Meskipun pandemi di negeri ini belum berakhir, tetapi tidak menyurutkan minat pemuda Indonesia untuk mendaftarkan dirinya atau sosok yang dinilai pantas mendapatkan apresiasi ini.
Sejak pendaftaran dibuka pada 2 Maret 2020, jumlah pendaftar SATU Indonesia Awards 2020 telah mencapai lebih dari 5.600 pendaftar. Target jumlah pendaftar tahun ini diharapkan dapat melampaui jumlah pendaftar tahun 2019 yang mencapai 8.654 pendaftar.
SATU Indonesia Awards telah mengapresiasi 305 anak muda, yang terdiri dari 59 penerima tingkat nasional dan 246 penerima tingkat provinsi. Selain memberikan apresiasi kepada tiap penerima berupa dana Rp60 juta, Astra juga memberikan pembinaan kegiatan secara berkelanjutan.
Semangat para pemuda dalam berjuang menebar kebaikan bagi sekitarnya sejalan dengan cita-cita Astra untuk sejahtera bersama bangsa.
Pendaftaran dan informasi lebih lanjut bisa dilihat di www.satu-indonesia.com serta ikuti juga akun Instagram (@SATU_Indonesia), Youtube (SATU Indonesia), Facebook (Semangat Astra Terpadu) dan Twitter (@SATU_Indonesia).(*)

Posting Komentar

0 Komentar