![]() |
| Bidik Penghematan Devisa Rp1,4 Triliun per Tahun |
JAKARTA, KP – PT Pupuk Indonesia (Persero) terus memperkuat hilirisasi industri nasional melalui pengembangan pabrik Soda Ash dan Amonium Klorida di Petrokimia Gresik, Jawa Timur. Dengan kapasitas produksi Soda Ash mencapai 300.000 ton per tahun, proyek ini berpotensi menggantikan sekitar 29 persen kebutuhan impor nasional dan menghemat devisa hingga Rp1,4 triliun per tahun.
Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan kontrak Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) untuk proyek Soda Ash dan Amonium Klorida oleh PT Petrokimia Gresik dan PT Rekayasa Industri (Rekind), yang merupakan bagian dari Pupuk Indonesia Group. Proyek ini menjadi pengembangan pabrik Soda Ash kedua di lingkungan Pupuk Indonesia Group sekaligus memperkuat rantai pasok bahan baku industri dan pupuk nasional.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, mengatakan hilirisasi menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kemampuan industri dalam negeri, mengurangi ketergantungan terhadap produk impor, serta menciptakan nilai tambah di Indonesia.
“Melalui hilirisasi, kita memperluas kemampuan Indonesia menghasilkan bahan baku industri, mengurangi ketergantungan impor, dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri,” ujar Rahmad dalam keterangan tertulis, Sabtu (31/10).
Menurutnya, pengembangan pabrik tersebut penting untuk memperkuat kemandirian industri nasional, mengingat Indonesia masih bergantung sepenuhnya pada impor Soda Ash untuk memenuhi kebutuhan domestik. Sepanjang 2025, kebutuhan Soda Ash nasional dipenuhi melalui impor sekitar 1,05 juta ton dengan nilai mencapai 225 juta dolar AS.
Dengan kapasitas produksi yang direncanakan sebesar 300.000 ton per tahun, pabrik di Petrokimia Gresik berpotensi menggantikan sekitar 29 persen volume impor tersebut. Pengoperasian fasilitas ini diharapkan dapat menekan ketergantungan terhadap pasokan luar negeri sekaligus mengurangi pengeluaran devisa.
Selain memproduksi Soda Ash, pabrik tersebut dirancang menghasilkan Amonium Klorida dengan kapasitas 300.000 ton per tahun. Produk ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi pupuk NPK sehingga mendukung integrasi rantai pasok industri kimia dan memperkuat ketersediaan bahan baku pupuk nasional.
Pengembangan proyek Soda Ash dan Amonium Klorida merupakan bagian dari agenda industrialisasi Pupuk Indonesia melalui pembangunan dan revitalisasi delapan pabrik dalam lima tahun ke depan. Upaya ini diarahkan untuk memperluas hilirisasi, mendiversifikasi produk kimia bernilai tambah, serta memperkuat kapasitas industri nasional.
“Pupuk Indonesia mengemban dua mandat strategis yang saling memperkuat, yaitu menjaga ketahanan pangan dan membangun kedaulatan industri nasional. Kedua mandat ini menjadi arah bagi setiap investasi, inovasi, dan langkah transformasi yang kita jalankan,” kata Rahmad.
Selain memperkuat industri kimia, proyek tersebut juga mengedepankan pemanfaatan teknologi rendah karbon. Pabrik Soda Ash dan Amonium Klorida Petrokimia Gresik dirancang memanfaatkan sekitar 174.000 ton karbon dioksida (CO2) per tahun yang berasal dari proses produksi pupuk. Pemanfaatan emisi karbon tersebut menjadi bahan baku produksi kimia bernilai tambah sekaligus mendukung upaya dekarbonisasi perusahaan.
Langkah ini sejalan dengan transformasi hijau Pupuk Indonesia menuju target Net Zero Emission (NZE) 2060. Melalui pengembangan teknologi yang lebih ramah lingkungan, perusahaan berupaya mengintegrasikan kegiatan produksi pupuk dengan pengembangan industri kimia yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
“Melalui Proyek Soda Ash dan Amonium Klorida ini, kami ingin menunjukkan bahwa inovasi dapat dikembangkan menjadi kemampuan industri, dan bahwa teknologi rendah karbon dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang nyata,” ujar Rahmad.
Petrokimia Gresik sebelumnya juga telah menguji teknologi penangkapan dan pemanfaatan karbon atau Carbon Capture and Utilization (CCU) melalui fasilitas pilot plant. Pengujian untuk mengolah CO2 dari proses industri menjadi Soda Ash tersebut mencatat efisiensi penangkapan karbon sebesar 91,48 hingga 97,79 persen. Hasil ini menunjukkan potensi teknologi CCU untuk mendukung pemanfaatan karbon sebagai bahan baku produk kimia bernilai tambah.
Rahmad menilai proyek tersebut menjadi momentum bagi Pupuk Indonesia Group untuk memperluas peran industri pupuk dalam transformasi industri nasional, tidak hanya melalui dukungan terhadap sektor pertanian, tetapi juga penguatan hilirisasi dan pengembangan industri rendah karbon yang berdaya saing.
“Momentum ini menjadi kesempatan bagi Pupuk Indonesia Group untuk menunjukkan bahwa industri pupuk mampu menjadi penggerak transformasi industri nasional melalui penguatan pasokan bagi pertanian, perluasan hilirisasi, dan pengembangan industri rendah karbon yang berdaya saing,” tuturnya.
Selain di Petrokimia Gresik, Pupuk Indonesia juga tengah membangun pabrik Soda Ash melalui PT Pupuk Kalimantan Timur di Bontang, Kalimantan Timur. Kedua proyek tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi gabungan sebesar 600.000 ton per tahun atau setara dengan sekitar 60 persen volume impor Soda Ash nasional.
Ketika kedua pabrik beroperasi penuh, kapasitas produksi tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor Soda Ash secara signifikan, dengan potensi penghematan devisa sekitar Rp2 triliun per tahun. Pengembangan ini sekaligus memperkuat strategi Pupuk Indonesia dalam membangun industri kimia terintegrasi, meningkatkan nilai tambah sumber daya, dan mendorong kemandirian industri nasional.(*/Red)
