PONTIANAK, KP – Komunitas UMKM Borneo Istimewa terus mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kalimantan Barat untuk meningkatkan kapasitas usaha serta memperluas jangkauan pemasaran. Berbagai upaya dilakukan melalui pendampingan, pelatihan, hingga promosi produk lokal agar UMKM semakin berkembang dan mampu bersaing.
Pembina Komunitas UMKM Borneo Istimewa, Edi Suprianto, mengatakan salah satu upaya memperkenalkan produk lokal kepada masyarakat dilakukan melalui kegiatan pameran yang diinisiasi Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Pontianak.
Menurutnya, pameran tersebut menjadi kesempatan bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk unggulan sekaligus menjangkau calon konsumen yang lebih luas. Produk yang ditampilkan cukup beragam, mulai dari makanan dan minuman atau food and beverage hingga produk kerajinan atau kriya.
Edi menjelaskan, saat ini Komunitas UMKM Borneo Istimewa memiliki sekitar 600 anggota yang tersebar di Kalimantan Barat. Dalam menjalankan program pembinaan, komunitas didukung sekitar 22 pendamping dan 15 tenaga pelatih.
“Di komunitas kami berbagai macam kegiatan dilakukan, mulai dari pelatihan di bidang produksi, pemasaran, keuangan, digital marketing, dan lain-lain,” ujarnya.
Ia menegaskan, pembinaan yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada kemampuan pelaku usaha dalam menghasilkan dan memasarkan produk. Lebih dari itu, UMKM juga didorong untuk mampu mengikuti perkembangan teknologi agar dapat meningkatkan daya saing.
“Penekanan kita saat ini adalah menuju kepada UMKM naik kelas. Kita ingin agar UMKM bukan hanya bisa produksi, kemudian bisa jualan, tetapi juga mereka bisa menguasai kemampuan teknologi yang sekarang lagi berkembang, seperti artificial intelligence dan lain-lain,” jelasnya.
Manfaat pendampingan tersebut turut dirasakan para anggota komunitas. Salah satunya Fitri, pelaku usaha makanan ringan yang bergabung dengan Komunitas UMKM Borneo Istimewa sejak 2023.
Fitri mengaku awalnya mengembangkan usaha berangkat dari hobi membuat makanan dan melihat adanya peluang pasar. Dari kegiatan tersebut, ia kemudian mulai memproduksi berbagai makanan ringan, seperti keripik pisang, kacang bawang, stik, peyek, hingga aneka jenis keripik lainnya.
Seluruh produk dibuat sendiri, mulai dari proses produksi hingga pemasaran. Selama bergabung dengan komunitas, Fitri mengaku memperoleh banyak manfaat, terutama dalam menambah pengetahuan tentang pengelolaan usaha, memperluas relasi, serta mendapatkan kesempatan mengikuti berbagai pelatihan.
“Alhamdulillah banyak perkembangan. Karena kita UMKM, ada pelatihan-pelatihan yang bisa kita ikuti dan jalani. Akhirnya kita juga banyak teman dan relasi, sehingga sampai sekarang tetap berjalan jualan,” ungkapnya.
Selain memasarkan produk secara langsung, Fitri juga membuka peluang bagi masyarakat yang ingin menjadi reseller untuk membantu memperluas pemasaran produknya.
Ke depan, ia berharap usaha yang dijalankannya semakin berkembang dan mampu menjangkau pasar di luar daerah. Namun, untuk saat ini, Fitri memilih memperkuat pasar lokal terlebih dahulu sebelum memperluas pemasaran ke wilayah yang lebih jauh.
Melalui kegiatan pembinaan dan penguatan jejaring usaha, Komunitas UMKM Borneo Istimewa berharap semakin banyak pelaku usaha lokal yang mampu meningkatkan kualitas produk, memanfaatkan teknologi, dan mengembangkan bisnis secara berkelanjutan. (*/Red)