Rayakan HUT ke-13, Galeri Indonesia Kaya Hidupkan Wayang Jurnalis Lewat Lakon Petruk Mantu

Galeri Indonesia Kaya Hidupkan Wayang Jurnalis Lewat Lakon Petruk Mantu

JAKARTA, KP – Galeri Indonesia Kaya (GIK) merayakan perjalanan 13 tahun dengan kembali menghadirkan program Wayang Jurnalis melalui lakon Petruk Mantu, berkolaborasi dengan Wayang Orang Bharata. Pertunjukan ini memberi kesempatan kepada para jurnalis untuk tampil langsung di panggung sekaligus mengenal lebih dekat proses kreatif seni pertunjukan tradisional Indonesia.

Program tersebut menjadi ruang bagi jurnalis untuk beralih peran, dari peliput menjadi pelaku seni. Para peserta berasal dari berbagai media, di antaranya CNBC Indonesia, CNN Indonesia TV, Harian Kompas/Kompas.id, iNews TV, LKBN Antara, Narasi.tv, Popbela.com, Popmama.com, Suara.com, Urbanstories.id, dan Validnews.id.

Program Director Galeri Indonesia Kaya Renitasari Adrian mengatakan, Wayang Jurnalis menjadi salah satu cara untuk mempererat hubungan masyarakat, khususnya kalangan media, dengan seni dan budaya Indonesia.

“Selama 13 tahun perjalanan Galeri Indonesia Kaya, kami bersyukur bisa terus tumbuh bersama masyarakat dalam mengenal, menikmati, dan merayakan keberagaman budaya Indonesia. Terima kasih juga kepada rekan-rekan jurnalis yang selama ini menjadi bagian penting dalam menyebarkan cerita tentang seni dan budaya Indonesia kepada masyarakat luas,” ujar Renitasari.

Ia berharap pengalaman tampil di panggung dapat menumbuhkan kedekatan dan apresiasi yang lebih besar terhadap seni pertunjukan Tanah Air. Menurutnya, keterlibatan langsung tersebut memberikan pengalaman berbeda bagi jurnalis yang selama ini lebih banyak meliput pertunjukan dari balik layar.

Wayang Jurnalis pertama kali diperkenalkan pada 2014. Setelah sempat vakum sejak 2020, program ini kembali digelar untuk keenam kalinya melalui pementasan Petruk Mantu.

Lakon tersebut mengisahkan Petruk yang berusaha meminang Endang Nilowati untuk anak laki-lakinya, Lengkung Kusumo. Namun, Endang Nilowati ternyata juga menjadi dambaan Prabu Kalapudaksa, sosok yang dikenal garang dan congkak. Konflik yang berkembang dibalut humor dan kejutan, sehingga menghadirkan kisah pewayangan dalam suasana ringan dan menghibur.

Sutradara pementasan sekaligus perwakilan Wayang Orang Bharata, Teguh “Kenthus” Ampiranto, mengapresiasi keberadaan Galeri Indonesia Kaya sebagai ruang bagi seniman untuk terus berkarya dan memperkenalkan seni pertunjukan kepada masyarakat.

“Bagi kami, kehadiran Galeri Indonesia Kaya memberikan arti penting bagi keberlangsungan seni pertunjukan. GIK menjadi salah satu ruang yang memberikan kesempatan bagi para seniman untuk terus berkarya dan bertemu dengan masyarakat,” ujarnya.

Pementasan ini juga menghadirkan dalang cilik Kitama Arturo yang berusia 12 tahun. Ketertarikannya terhadap wayang kulit tumbuh sejak usia enam tahun setelah menerima hadiah wayang Gatotkaca dan beskap dalang. Ia kemudian mempelajari dunia pewayangan melalui YouTube, buku cerita, serta bertanya kepada berbagai orang mengenai kisah-kisah wayang.

Sejak diresmikan pada 10 Oktober 2013, Galeri Indonesia Kaya telah dikunjungi lebih dari satu juta orang dan menyelenggarakan lebih dari 3.000 pertunjukan. Berbagai kegiatan yang dihadirkan mencakup tari, teater, teater musikal, monolog, musik, apresiasi sastra, hingga kunjungan budaya, dengan melibatkan lebih dari 2.000 pekerja seni.

Melalui perayaan HUT ke-13 dan kembalinya Wayang Jurnalis, Galeri Indonesia Kaya berupaya memperluas keterlibatan masyarakat dalam mengenal dan menikmati seni budaya Indonesia. Informasi mengenai jadwal pertunjukan dan program Ruang Kreatif Galeri Indonesia Kaya dapat diakses melalui IndonesiaKaya.com.(*/Red)

Kapuas Post

Kapuas Post merupakan media lokal Kalimantan Barat yang mencoba eksis kembali menjadi media online

Lebih baru Lebih lama

ads

ads

نموذج الاتصال