Kredit Digital Kredivo Makin Produktif, 65,7 Persen Pengguna Tergolong Melek Finansial

65,7 Persen Pengguna Tergolong Melek Finansial

JAKARTA, KP – Penggunaan kredit digital oleh pengguna Kredivo menunjukkan pola peminjaman yang dinilai sehat dan bertanggung jawab. Berdasarkan Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo yang disusun Kredivo Group bersama Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI), rata-rata Debt-to-Income Ratio (DTI) atau rasio utang terhadap pendapatan pengguna Kredivo berada di kisaran 10–19 persen dari total pendapatan.

Laporan tersebut juga mencatat 58,7 persen pengguna yang teraktivasi dan bertransaksi pada 2023 memperoleh kenaikan limit karena memiliki rekam jejak pembayaran yang disiplin. Sementara itu, 65,7 persen pengguna tergolong well-literate secara finansial.

Temuan tersebut menunjukkan perluasan akses kredit digital dapat berjalan beriringan dengan perilaku penggunaan kredit yang sehat. Studi yang dilakukan untuk melihat dampak satu dekade perjalanan Kredivo di Indonesia itu juga menunjukkan bahwa layanan PayLater dan Pinjaman Tunai dari KrediFazz tidak hanya memperluas akses terhadap kredit formal, tetapi turut mendorong pemanfaatan kredit untuk kebutuhan produktif serta mendukung pemberdayaan UMKM.

Co-Founder & Presiden Direktur Kredivo Indonesia, Umang Rustagi, mengatakan kontribusi industri kredit digital saat ini tidak hanya dapat dilihat dari besarnya penyaluran kredit, tetapi juga dampak sosial dan ekonomi yang dihasilkan.

“Sepuluh tahun lalu, Kredivo Group hadir di tengah kesenjangan kredit yang luas, dengan visi menjembatani akses masyarakat terhadap layanan kredit yang mudah, cepat, dan terjangkau. Sejak saat itu, kami tumbuh bersama jutaan pengguna, merchant, dan mitra untuk tidak hanya membuka akses namun juga untuk memberdayakan secara sosial dan ekonomi,” ujarnya.

Menurut Umang, studi bersama LD FEB UI menjadi refleksi perjalanan Kredivo sekaligus menunjukkan bahwa kredit digital mulai menjadi bagian dari infrastruktur keuangan yang membantu masyarakat membangun riwayat kredit, memenuhi kebutuhan produktif dan mengembangkan usaha.

Dalam hal akses, studi tersebut mencatat jumlah pengguna yang memperoleh akses kredit pertama melalui Kredivo pada 2025 meningkat 10 kali lipat dibandingkan 2019. Dari jumlah tersebut, 48 persen merupakan perempuan dan 57 persen berusia di bawah 30 tahun, dua kelompok yang secara historis menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan kredit karena minimnya riwayat keuangan.

Sebanyak 23 persen pengguna juga mengaku Kredivo mempermudah akses mereka terhadap layanan kredit formal lainnya. Di segmen UMKM, sebanyak 40,6 persen peminjam modal usaha memperoleh akses kredit usaha pertama melalui Kredivo.

Wakil Kepala Bidang Penelitian dan Pelatihan LD FEB UI, Paksi Walandouw, mengatakan terbukanya akses kredit bagi kelompok yang selama ini sulit dijangkau sistem keuangan formal perlu diikuti pemanfaatan yang mampu meningkatkan kapasitas ekonomi.

“Perempuan, generasi muda, dan pelaku UMKM merupakan kelompok yang paling sulit dijangkau sistem keuangan formal, namun justru menjadi bagian signifikan dari penerima akses kredit pertama melalui Kredivo. Yang terpenting bukan sekadar terbukanya akses, tetapi bagaimana akses tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas ekonomi masyarakat dan pelaku usaha. Di situlah dampak sosial dan ekonomi mulai terbentuk,” katanya.

Dari sisi pemanfaatan, kredit yang disalurkan melalui Kredivo juga menunjukkan peningkatan untuk kebutuhan produktif. Porsi kredit produktif meningkat dari 52,3 persen pada 2019 menjadi 54,3 persen pada 2025. Kredit tersebut digunakan antara lain untuk kebutuhan kesehatan, pendidikan, renovasi rumah dan modal usaha.

Pada periode yang sama, jumlah pengguna yang memanfaatkan kredit sebagai modal usaha meningkat 15 kali lipat. Temuan tersebut menunjukkan kredit digital semakin dimanfaatkan tidak hanya untuk kebutuhan jangka pendek, tetapi juga sebagai salah satu sumber pembiayaan dalam pengelolaan keuangan dan pengembangan usaha.

Head of Marketing Kredivo, Indina Andamari, mengatakan pihaknya memandang layanan PayLater sebagai salah satu titik awal bagi masyarakat untuk membangun reputasi finansial.

“Di Kredivo, kami memandang PayLater sebagai titik awal bagi masyarakat untuk membangun reputasi finansialnya. Fokus kami adalah memastikan akses tersebut dimanfaatkan secara bertanggung jawab melalui edukasi, inovasi produk, dan praktik penyaluran kredit yang prudent. Ketika akses diikuti perilaku finansial yang sehat, manfaatnya dapat dirasakan dalam peluang ekonomi yang semakin luas bagi pengguna,” ujarnya.

Paksi menambahkan, lebih dari separuh kredit yang disalurkan melalui Kredivo digunakan untuk kebutuhan produktif. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya perubahan fungsi kredit digital dari sekadar alat pemenuhan kebutuhan jangka pendek menjadi instrumen yang dapat mendukung pembentukan kapasitas ekonomi jangka panjang.

“Hal ini didukung oleh meningkatnya literasi keuangan dan praktik manajemen risiko yang prudent. Dengan pondasi tersebut, kontribusi kredit digital terhadap perekonomian nasional memiliki ruang tumbuh lebih luas, terutama bagi kelompok masyarakat yang belum terjangkau layanan keuangan formal,” jelasnya.

Dari sisi dampak ekonomi, pada 2025 Kredivo berkontribusi sekitar Rp33 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Angka tersebut meningkat hampir 10 kali lipat dibandingkan 2019.

Di sektor UMKM, sebanyak 96,9 persen peminjam modal usaha merupakan pelaku usaha mikro dan 34 persen di antaranya mengalami peningkatan omzet sebesar 10–40 persen. Sementara itu, jaringan merchant Kredivo tumbuh 16 kali lipat sejak 2019 dan kini menjangkau 446 kabupaten/kota, terutama di wilayah tier 2 dan 3.

Indina mengatakan dampak pembiayaan terhadap aktivitas ekonomi menjadi salah satu indikator yang diperhatikan Kredivo dalam melihat keberhasilan bisnisnya.

“Bagi kami, keberhasilan Kredivo tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari seberapa jauh akses pembiayaan yang kami hadirkan dapat menciptakan manfaat ekonomi yang nyata. Mulai dari membantu masyarakat membangun rekam jejak keuangan, mendukung kebutuhan produktif, hingga mendorong aktivitas ekonomi di berbagai daerah,” katanya.

Dalam laporan tersebut, layanan PayLater Kredivo disebut berkontribusi sebesar 30 persen terhadap total outstanding PayLater nasional pada Februari 2026. Sementara melalui layanan Pinjaman Tunai, Kredivo menyumbang sekitar 30 persen dari total nilai outstanding dan 20 persen dari total akun pengguna fintech lending nasional pada Desember 2025.

Studi dampak sosial dan ekonomi ini mencakup perjalanan Kredivo selama satu dekade di Indonesia dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Survei dilakukan terhadap 67 pelaku UMKM dan 730 pengguna, serta dilengkapi data internal Kredivo, statistik berbagai institusi dan perbandingan industri. Pendekatan kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam dengan 10 pelaku UMKM dan 20 pengguna.

Hasil studi tersebut menjadi gambaran mengenai perkembangan pemanfaatan kredit digital, khususnya dalam memperluas akses pembiayaan, mendorong penggunaan kredit untuk kebutuhan produktif serta membuka peluang ekonomi bagi masyarakat dan pelaku UMKM.(*/Red)

Kapuas Post

Kapuas Post merupakan media lokal Kalimantan Barat yang mencoba eksis kembali menjadi media online

Lebih baru Lebih lama

ads

ads

نموذج الاتصال