![]() |
| Kredit Digital Disebut Dorong Ekonomi hingga UMKM |
JAKARTA, KP – Setelah satu dekade beroperasi di Indonesia, Kredivo Group melalui layanan unggulannya, Kredivo, mencatat perkembangan layanan kredit digital yang tidak hanya memperluas akses masyarakat terhadap pembiayaan formal, tetapi juga memberikan dampak sosial dan ekonomi.
Hal tersebut tergambar dalam Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo yang disusun Kredivo Group bersama Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI). Studi tersebut menunjukkan akses kredit melalui layanan PayLater Kredivo dan Pinjaman Tunai dari KrediFazz turut mendorong pemanfaatan kredit untuk kebutuhan produktif, perilaku peminjaman yang lebih bertanggung jawab, serta pemberdayaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM.
Co-Founder & Presiden Direktur Kredivo Indonesia, Umang Rustagi, mengatakan kontribusi industri kredit digital kini tidak lagi hanya dapat dilihat dari besarnya nilai kredit yang disalurkan. Dampak sosial dan ekonomi yang dihasilkan juga menjadi bagian penting dalam perkembangan industri tersebut.
“Sepuluh tahun lalu, Kredivo Group hadir di tengah kesenjangan kredit yang luas, dengan visi menjembatani akses masyarakat terhadap layanan kredit yang mudah, cepat, dan terjangkau. Sejak saat itu, kami tumbuh bersama jutaan pengguna, merchant, dan mitra untuk tidak hanya membuka akses namun juga untuk memberdayakan secara sosial dan ekonomi. Studi bersama LD FEB UI ini menjadi refleksi atas perjalanan itu, sekaligus menegaskan bahwa kredit digital kini menjadi bagian dari infrastruktur keuangan yang membantu masyarakat membangun riwayat kredit, memenuhi kebutuhan produktif, hingga mengembangkan usaha,” ujar Umang.
Studi tersebut menunjukkan Kredivo berperan dalam menjembatani kesenjangan akses terhadap kredit formal. Pada 2025, jumlah pengguna yang memperoleh akses kredit pertama melalui Kredivo meningkat hingga 10 kali lipat dibandingkan 2019.
Dari kelompok pengguna tersebut, sebanyak 48 persen merupakan perempuan dan 57 persen berusia di bawah 30 tahun. Kedua kelompok ini dinilai secara historis termasuk kelompok yang relatif lebih sulit menjangkau layanan kredit formal karena keterbatasan riwayat keuangan.
Selain itu, sebanyak 23 persen pengguna mengaku Kredivo membantu mempermudah akses mereka terhadap layanan kredit formal lainnya. Di sektor UMKM, sebanyak 40,6 persen peminjam modal usaha memperoleh akses kredit usaha pertama mereka melalui Kredivo.
Wakil Kepala Bidang Penelitian dan Pelatihan LD FEB UI, Paksi Walandouw, mengatakan perempuan, generasi muda, dan pelaku UMKM merupakan kelompok yang selama ini menghadapi tantangan lebih besar dalam mengakses sistem keuangan formal.
“Perempuan, generasi muda, dan pelaku UMKM merupakan kelompok yang paling sulit dijangkau sistem keuangan formal, namun justru menjadi bagian signifikan dari penerima akses kredit pertama melalui Kredivo. Yang terpenting bukan sekadar terbukanya akses, tetapi bagaimana akses tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas ekonomi masyarakat dan pelaku usaha. Di situlah dampak sosial dan ekonomi mulai terbentuk,” katanya.
Di tengah semakin mudahnya akses terhadap kredit digital, studi tersebut juga mencatat perilaku peminjaman pengguna Kredivo berada dalam kategori yang relatif sehat. Rata-rata Debt-to-Income Ratio atau rasio utang terhadap pendapatan pengguna berada pada kisaran 10 hingga 19 persen dari total pendapatan.
Sebanyak 58,7 persen pengguna yang telah teraktivasi dan bertransaksi pada 2023 memperoleh kenaikan limit kredit karena memiliki rekam jejak pembayaran yang disiplin. Sementara 65,7 persen pengguna tercatat memiliki tingkat literasi keuangan yang baik.
Head of Marketing Kredivo, Indina Andamari, mengatakan layanan PayLater dapat menjadi salah satu pintu awal bagi masyarakat untuk membangun reputasi finansial.
“Di Kredivo, kami memandang PayLater sebagai titik awal bagi masyarakat untuk membangun reputasi finansialnya. Fokus kami adalah memastikan akses tersebut dimanfaatkan secara bertanggung jawab melalui edukasi, inovasi produk, dan praktik penyaluran kredit yang prudent. Ketika akses diikuti perilaku finansial yang sehat, manfaatnya dapat dirasakan dalam peluang ekonomi yang semakin luas bagi pengguna,” ujar Indina.
Pemanfaatan kredit untuk kebutuhan produktif juga mengalami peningkatan. Porsi kredit produktif yang disalurkan melalui Kredivo meningkat dari 52,3 persen pada 2019 menjadi 54,3 persen pada 2025.
Kredit tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari kesehatan, pendidikan, renovasi rumah hingga modal usaha. Dalam periode yang sama, jumlah pengguna yang memanfaatkan kredit sebagai modal usaha meningkat hingga 15 kali lipat.
Paksi menilai perkembangan tersebut menunjukkan kredit digital mulai berkembang dari sekadar instrumen untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek menjadi salah satu sumber pembiayaan yang dapat mendukung pembentukan kapasitas ekonomi dalam jangka panjang.
“Lebih dari separuh kredit yang disalurkan melalui Kredivo dimanfaatkan untuk kebutuhan produktif, menunjukkan bahwa kredit digital berkembang dari alat pemenuhan kebutuhan jangka pendek menjadi instrumen pembentukan kapasitas ekonomi jangka panjang. Hal ini didukung oleh meningkatnya literasi keuangan dan praktik manajemen risiko yang prudent. Dengan pondasi tersebut, kontribusi kredit digital terhadap perekonomian nasional memiliki ruang tumbuh lebih luas, terutama bagi kelompok masyarakat yang belum terjangkau layanan keuangan formal,” jelasnya.
Dari sisi industri, selama 2025 layanan PayLater Kredivo disebut berkontribusi sebesar 30 persen terhadap total outstanding PayLater nasional pada Februari 2026. Melalui layanan Pinjaman Tunai, Kredivo juga menyumbang sekitar 30 persen dari total nilai outstanding dan 20 persen dari total akun pengguna industri fintech lending nasional pada Desember 2025.
Studi tersebut juga mencatat dampak ekonomi yang lebih luas. Pada 2025, Kredivo disebut berkontribusi sekitar Rp33 triliun terhadap Produk Domestik Bruto atau PDB Indonesia. Nilai tersebut meningkat hampir 10 kali lipat dibandingkan kontribusi yang tercatat pada 2019.
Dampak tersebut juga dirasakan oleh sektor UMKM. Sebanyak 96,9 persen peminjam modal usaha merupakan pelaku usaha mikro dan 34 persen di antaranya mengalami peningkatan omzet antara 10 hingga 40 persen.
Pertumbuhan ekosistem Kredivo turut didukung jaringan merchant yang berkembang hingga 16 kali lipat sejak 2019 dan kini menjangkau 446 kabupaten dan kota, termasuk wilayah tier 2 dan tier 3.
Indina mengatakan pertumbuhan bisnis harus berjalan beriringan dengan manfaat nyata yang dapat dirasakan masyarakat dan pelaku usaha.
“Bagi kami, keberhasilan Kredivo tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari seberapa jauh akses pembiayaan yang kami hadirkan dapat menciptakan manfaat ekonomi yang nyata. Mulai dari membantu masyarakat membangun rekam jejak keuangan, mendukung kebutuhan produktif, hingga mendorong aktivitas ekonomi di berbagai daerah. Ke depan, kami akan terus berupaya memperluas dampak tersebut secara bertanggung jawab, sejalan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan ekosistem keuangan Indonesia,” ujarnya.
Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo tersebut mencakup perjalanan perusahaan selama 10 tahun di Indonesia dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif.
Survei dilakukan terhadap 67 pelaku UMKM dan 730 pengguna, yang dilengkapi dengan data internal Kredivo, statistik dari berbagai institusi, serta perbandingan kondisi industri. Pendekatan kualitatif juga dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap 10 pelaku UMKM dan 20 pengguna.
Melalui studi tersebut, perkembangan kredit digital di Indonesia dinilai tidak hanya berkaitan dengan kemudahan masyarakat memperoleh akses pembiayaan, tetapi juga bagaimana akses tersebut dapat dimanfaatkan secara produktif dan bertanggung jawab untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.(*/Red)
