Menjamurnya Coffeeshop di Pontianak, dari Tradisi Ngopi hingga Ruang Digital Generasi Muda

WK. Winny di malam hari dipenuhi pengunjung yang ngopi sambil bersantai

PONTIANAK, KP – Siapa yang tidak mengenal Pontianak sebagai kota yang lekat dengan budaya ngopi. Julukan “Kota 1001 Warung Kopi” atau “Kota Seribu Satu Warung Kopi” sudah begitu populer di tengah masyarakat. Julukan tersebut memang bukan sebutan resmi pemerintah, melainkan gambaran yang berkembang di masyarakat dan media untuk menggambarkan betapa mudahnya menemukan tempat ngopi di hampir setiap sudut Kota Pontianak.

Fenomena tersebut bukan tanpa alasan. Berdasarkan data Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Pontianak per Agustus 2025, tercatat sebanyak 1.035 unit usaha coffeeshop yang tersebar di enam kecamatan. Jumlah tersebut mencakup warung kopi tradisional hingga coffeeshop dengan konsep modern.

Dari jumlah tersebut, Pontianak Selatan menjadi wilayah dengan jumlah usaha coffeeshop terbanyak, yakni 368 unit. Berikutnya Pontianak Kota dengan 362 unit, Pontianak Tenggara sebanyak 136 unit, Pontianak Timur 59 unit, Pontianak Utara 57 unit, dan Pontianak Barat sebanyak 48 unit.

Angka tersebut menjadi gambaran kuat mengenai bagaimana budaya minum kopi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kota Khatulistiwa. Dengan jumlah penduduk sekitar 680 ribu jiwa, keberadaan lebih dari seribu tempat usaha kopi menunjukkan tingginya permintaan sekaligus ketatnya persaingan bisnis di sektor tersebut.

Meski demikian, istilah “Kota 1001 Warung Kopi” tidak dapat dimaknai secara harfiah sebagai jumlah resmi warung kopi di Pontianak. Sebutan tersebut lebih merupakan representasi budaya masyarakat yang menjadikan aktivitas menikmati kopi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Bagi masyarakat Pontianak, aktivitas ngopi juga tidak selalu identik dengan waktu malam. Sejak pagi hari, sejumlah warung kopi telah dipenuhi pengunjung. Bahkan, beberapa tempat beroperasi hingga 24 jam, terutama warung kopi yang berada di kawasan pusat bisnis dan perdagangan.

Salah satu warung kopi yang menjadi bagian dari sejarah budaya ngopi Pontianak adalah Warung Kopi Winny atau yang dikenal dengan WK Winny di Jalan Gajah Mada Nomor 159. Berada di kawasan pusat kota dan tepat di depan Hotel HARRIS Pontianak, warung kopi tersebut menjadi salah satu tempat yang cukup dikenal lintas generasi.

WK Winny disebut telah berjualan sejak 1940 dan merupakan usaha keluarga yang dijalankan secara turun-temurun. Puluhan tahun bertahan, tempat tersebut bukan hanya menjadi lokasi untuk menikmati secangkir kopi, tetapi juga ruang pertemuan bagi berbagai lapisan masyarakat.

Anak muda hingga orang tua, pekerja hingga pejabat, dapat ditemui dalam satu ruang yang sama. Tidak sedikit pula komunitas yang menjadikan tempat tersebut sebagai lokasi berkumpul atau kopi darat alias kopdar. Kondisi ini memperlihatkan bahwa sejak dahulu warung kopi di Pontianak telah memiliki fungsi sosial yang lebih luas dibandingkan sekadar tempat menjual minuman.

Ferdinan yang merupakan pengunjung setia WK Winny mengungkapkan alasan senang bersantai dan minum kopi disini.

"WK Winny ini memberikan feel yang berbeda saat ngopi dan bersantai disini, suasananya seperti ngopi diwarkop tahun 90-an," ujarnya.

Menu yang ditawarkan pun masih mempertahankan karakter warung kopi tradisional. Pengunjung dapat menikmati kopi, teh, susu, serta berbagai minuman hangat dan dingin. Kopi susu dan kopi saring menjadi beberapa menu yang banyak diminati. Di pagi hari, etalase warung juga biasanya dipenuhi aneka kue tradisional yang dititipkan untuk dijual, seperti bolu lapis selai nanas, dodol, klepon, tar nanas, hingga bakpia.

Sementara pada sore hingga malam hari, pisang goreng srikaya menjadi salah satu jajanan yang turut menarik perhatian pengunjung. Ragam sajian tersebut menjadi bagian dari pengalaman menikmati kopi yang tidak hanya mengandalkan minuman, tetapi juga makanan dan suasana tempat.

Jika warung kopi tradisional telah lebih dahulu menjadi ruang interaksi sosial, kehadiran coffeeshop modern kemudian membawa budaya tersebut ke bentuk yang berbeda. Dalam beberapa tahun terakhir, coffeeshop dengan berbagai konsep terus bermunculan di Pontianak. Ada yang mengedepankan desain interior, suasana nyaman, ruang terbuka, konsep minimalis, hingga tempat yang dirancang untuk menunjang aktivitas bekerja dan belajar.

Kehadiran tempat-tempat tersebut semakin mendapat tempat di kalangan generasi muda. Coffeeshop tidak lagi sekadar menjadi lokasi untuk menikmati kopi, tetapi juga menjadi ruang berkumpul yang mengakomodasi berbagai aktivitas. Anak muda dapat datang untuk mengobrol bersama teman, mengerjakan tugas kuliah, menyelesaikan pekerjaan, melakukan pertemuan informal, hingga membuat konten untuk media sosial.

Di tengah perubahan tersebut, ada satu benda yang hampir selalu hadir di meja pengunjung coffeeshop, terutama di kalangan generasi muda, yakni gadget. Smartphone, tablet, laptop, hingga perangkat pendukung lainnya kini menjadi bagian dari aktivitas nongkrong. Secangkir kopi dan smartphone seolah menjadi kombinasi yang sulit dipisahkan dari keseharian anak muda di ruang-ruang komunal perkotaan.

Penggunaan perangkat mobile tersebut membuat aktivitas di coffeeshop menjadi semakin beragam. Satu meja dapat menjadi tempat bercengkerama sekaligus ruang kerja. Seseorang bisa berbincang dengan teman, kemudian membuka laptop untuk menyelesaikan pekerjaan, memeriksa pesan melalui smartphone, melakukan rapat secara daring, atau mencari referensi melalui internet.

Bagi mahasiswa, coffeeshop dapat berubah menjadi ruang belajar alternatif. Tugas kuliah dikerjakan dengan laptop, bahan referensi dicari melalui smartphone, sementara diskusi dengan teman dilakukan secara langsung maupun melalui berbagai aplikasi komunikasi. Bagi pekerja dan pelaku usaha muda, coffeeshop bahkan dapat berfungsi sebagai kantor sementara untuk melakukan pertemuan, mengirim dokumen, hingga mengelola pekerjaan.

Perubahan ini menunjukkan bahwa ruang sosial generasi muda kini semakin terhubung dengan teknologi. Nongkrong tidak selalu berarti meninggalkan aktivitas digital. Sebaliknya, aktivitas sosial dan digital justru berjalan berdampingan dalam satu ruang.

Perangkat mobile juga mengubah cara anak muda mengabadikan pengalaman mereka ketika berada di coffeeshop. Kamera smartphone digunakan untuk memotret makanan dan minuman, merekam suasana, membuat video pendek, hingga menghasilkan konten untuk media sosial. Pengalaman nongkrong kemudian tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan coffeeshop, tetapi dapat terus berlanjut di ruang digital melalui unggahan dan percakapan di media sosial.

Media sosial kemudian ikut memperkuat tren tersebut. Sebuah coffeeshop dengan konsep menarik dapat dengan mudah dikenal lebih luas ketika pengunjung membagikan pengalaman mereka melalui Instagram, TikTok, maupun platform digital lainnya. Foto makanan dan minuman, interior tempat, hingga aktivitas nongkrong secara tidak langsung menjadi bagian dari promosi sebuah usaha.

Di titik inilah kebutuhan terhadap perangkat teknologi juga berkembang. Anak muda tidak hanya mencari smartphone yang mampu digunakan untuk berkomunikasi, tetapi juga perangkat dengan kamera mumpuni, baterai yang tahan digunakan sepanjang hari, konektivitas cepat, penyimpanan yang memadai, serta performa yang mampu mendukung pekerjaan dan hiburan sekaligus.

Perubahan perilaku tersebut berjalan seiring dengan semakin panjangnya perjalanan industri ritel dan distribusi perangkat teknologi di Indonesia. Selama tiga dekade, Erajaya Group menjadi salah satu perusahaan yang ikut berada dalam perjalanan perkembangan ekosistem perangkat dan gaya hidup digital masyarakat Indonesia.

Memasuki 30 tahun perjalanan, Erajaya Group hadir di tengah perubahan kebutuhan konsumen yang semakin berkembang, termasuk generasi muda yang menjadikan perangkat mobile sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari. Jika dahulu perangkat komunikasi lebih banyak digunakan untuk melakukan panggilan dan mengirim pesan, kini smartphone telah berkembang menjadi alat untuk bekerja, belajar, bertransaksi, membuat konten, menikmati hiburan, hingga membangun jejaring sosial.

Perubahan tersebut juga terlihat dalam kebiasaan anak muda ketika berada di coffeeshop. Tempat yang dahulu identik dengan percakapan tatap muka kini menjadi ruang yang mempertemukan interaksi langsung dengan aktivitas digital. Seseorang dapat duduk bersama teman dalam satu meja, tetapi pada saat yang sama tetap terhubung dengan komunitas, pekerjaan, keluarga, maupun berbagai informasi melalui perangkat yang berada di tangannya.

Kehadiran ekosistem perangkat seperti smartphone, tablet, laptop, smartwatch, earphone, hingga berbagai aksesori pendukung semakin membuat aktivitas tersebut terintegrasi. Perangkat tidak lagi berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi untuk mendukung mobilitas dan produktivitas penggunanya.

Bagi generasi muda yang memiliki mobilitas tinggi, kebutuhan tersebut menjadi semakin relevan. Coffeeshop dapat menjadi tempat untuk memulai aktivitas pada pagi hari, melanjutkan pekerjaan pada siang hari, berdiskusi dengan komunitas pada sore hari, hingga bersantai bersama teman pada malam hari. Dalam seluruh rangkaian tersebut, perangkat mobile menjadi alat yang membantu mereka tetap terhubung.

Namun, teknologi tidak serta-merta menghilangkan fungsi utama coffeeshop sebagai ruang interaksi. Justru, perangkat digital dapat menjadi bagian dari cara baru masyarakat membangun hubungan. Sebuah percakapan dapat dimulai dari pertemuan langsung, dilanjutkan melalui grup percakapan, kemudian berkembang menjadi kolaborasi bisnis, kegiatan komunitas, atau sekadar pertemanan yang terus terhubung melalui dunia digital.

Salah satu coffeeshop yang jadi tempat nongkrong generasi muda dan menjadi ruang digital

Perubahan tersebut menunjukkan adanya dinamika dalam cara generasi muda menggunakan ruang sosial. Jika sebelumnya interaksi banyak berlangsung di rumah, lingkungan kampus, taman, atau ruang publik, kini coffeeshop ikut mengambil peran sebagai ruang pertemuan alternatif yang memadukan interaksi sosial dan aktivitas digital.

Menariknya, kebutuhan anak muda terhadap coffeeshop juga semakin berkembang. Mereka tidak hanya mempertimbangkan rasa kopi dan harga, tetapi juga suasana, desain tempat, ketersediaan jaringan internet, colokan listrik, kenyamanan, pelayanan, hingga spot yang menarik untuk diabadikan melalui kamera ponsel.

Pada akhirnya, coffeeshop modern tidak hanya menjual kopi, tetapi juga menjual pengalaman dan suasana. Bagi sebagian generasi muda, memilih tempat nongkrong bahkan menjadi bagian dari gaya hidup. Mereka cenderung mencari ruang yang sesuai dengan karakter, kebutuhan, maupun aktivitas yang sedang dilakukan.

Di sisi lain, fenomena tersebut turut menciptakan ruang pertemuan bagi komunitas dan individu dengan latar belakang yang berbeda. Percakapan sederhana saat menikmati kopi dapat berkembang menjadi diskusi mengenai pekerjaan, pendidikan, bisnis, kegiatan komunitas, hingga peluang kolaborasi.

Hal itu memperlihatkan bahwa budaya ngopi di Pontianak memiliki akar yang cukup panjang. Warung kopi tradisional seperti WK Winny telah menunjukkan bagaimana tempat minum kopi dapat menjadi ruang sosial lintas generasi. Sementara coffeeshop modern membawa fungsi serupa dengan pendekatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan gaya hidup masyarakat saat ini.

Menjamurnya coffeeshop juga memberikan dampak terhadap perekonomian lokal. Banyaknya usaha yang tumbuh menciptakan kebutuhan terhadap tenaga kerja, bahan baku, produk makanan pendamping, hingga jasa kreatif. Di saat yang sama, persaingan membuat pelaku usaha harus terus berinovasi agar dapat mempertahankan pelanggan.

Dengan lebih dari seribu usaha coffeeshop yang tercatat pada Agustus 2025, budaya ngopi Pontianak tampaknya masih akan terus berkembang. Setiap tahun selalu ada tempat baru dengan konsep yang menawarkan pengalaman berbeda. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, ada satu hal yang tetap bertahan, yakni kebutuhan masyarakat untuk bertemu dan berinteraksi.

Bedanya, cara masyarakat menjalani interaksi tersebut kini ikut berubah. Jika dahulu secangkir kopi menjadi pusat percakapan, kini meja coffeeshop juga dipenuhi layar smartphone, laptop, tablet, dan berbagai perangkat digital yang mendukung aktivitas penggunanya.

Secangkir kopi pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar minuman. Di Pontianak, kopi menjadi bagian dari kebiasaan, ruang percakapan, sekaligus pengikat hubungan sosial. Dari warung kopi sederhana hingga coffeeshop modern, dari percakapan tatap muka hingga koneksi melalui perangkat digital, ruang-ruang tersebut terus menjadi saksi bagaimana masyarakat Kota Khatulistiwa membangun pertemanan, komunitas, jaringan, pekerjaan, dan berbagai cerita dalam keseharian.

Erajaya Group melalui erafone konsisten menghadirkan perangkat digital selama 30 tahun bagi masyarakat Pontianak 

Tiga puluh tahun perjalanan Erajaya Group pun berada dalam rentang perubahan tersebut: dari era ketika perangkat komunikasi hanya menjadi alat untuk terhubung, hingga masa ketika perangkat mobile menjadi bagian dari hampir setiap aktivitas masyarakat. Dan di tengah budaya ngopi Pontianak yang terus berkembang, teknologi hadir bukan untuk menggantikan interaksi, melainkan memperluas cara generasi muda terhubung, berkarya, dan membangun relasi.(Rif)

Kapuas Post

Kapuas Post merupakan media lokal Kalimantan Barat yang mencoba eksis kembali menjadi media online

Lebih baru Lebih lama

ads

ads

نموذج الاتصال