![]() |
| Pupuk Indonesia Perkuat Peran Strategis Jaga Pasokan Global |
JAKARTA, KP – PT Pupuk Indonesia (Persero) yang genap berusia 14 tahun menegaskan komitmennya memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus menjaga stabilitas pasokan pupuk global di tengah dinamika geopolitik dunia yang semakin kompleks.
Mengusung tema “Transform, Sustain, Empower”, momentum hari ulang tahun perusahaan tahun ini menjadi refleksi langkah strategis Pupuk Indonesia dalam menjaga pasokan domestik sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen pupuk dunia.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, mengatakan meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah turut memberi tekanan terhadap rantai pasok pupuk global, khususnya jalur distribusi internasional. Namun di tengah kondisi tersebut, Indonesia dinilai berada pada posisi strategis karena mampu menjaga stabilitas pasokan sebagai salah satu produsen urea terbesar dunia.
“Di tengah dinamika global, prioritas kami tetap memastikan kebutuhan pupuk dalam negeri terpenuhi dengan baik. Namun dengan kapasitas yang kami miliki, Indonesia juga memiliki ruang untuk berkontribusi dalam menjaga keseimbangan pasokan global,” ujar Rahmad, Minggu (6/4/2026).
Ia menyebut, setelah kebutuhan domestik terpenuhi, Indonesia memiliki potensi ekspor sekitar 1,5 hingga 2 juta ton pupuk yang dapat dimanfaatkan untuk membantu menjaga stabilitas pasar global.
Menurut Rahmad, posisi strategis tersebut merupakan hasil transformasi yang secara konsisten dilakukan perusahaan dalam memperkuat fondasi industri pupuk nasional.
Saat ini, kapasitas produksi Pupuk Indonesia mencapai 14,8 juta ton per tahun, termasuk produksi urea sebesar 9,4 juta ton per tahun. Dengan basis produksi yang kuat dan dukungan sumber daya domestik, Indonesia dinilai memiliki ketahanan lebih baik dalam menghadapi tekanan rantai pasok global.
Sejalan dengan tema HUT ke-14, transformasi perusahaan dilakukan melalui pembenahan menyeluruh mulai dari kebijakan subsidi, tata kelola distribusi, hingga penguatan struktur pembiayaan.
Pemerintah juga telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 yang kemudian disempurnakan melalui Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025 guna mendorong sistem distribusi lebih efektif dan skema pembiayaan yang adaptif.
Melalui perubahan skema subsidi dari cost plus menjadi market-based mechanism atau marked-to-market (MtM), serta dukungan pembayaran subsidi sebagian di muka, Pupuk Indonesia kini memiliki fleksibilitas finansial yang lebih kuat.
“Revitalisasi menjadi kunci untuk memastikan industri pupuk nasional tetap andal dan berdaya saing. Dalam lima tahun ke depan, Pupuk Indonesia menargetkan pembangunan dan revitalisasi tujuh pabrik sebagai bagian dari penguatan kapasitas dan efisiensi produksi,” jelas Rahmad.
Transformasi tersebut juga berdampak langsung pada sektor pertanian nasional. Penyaluran pupuk bersubsidi berhasil dilakukan tepat waktu sejak 1 Januari selama dua tahun berturut-turut, disertai penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi sebesar 20 persen pada 2025.
Kondisi itu turut mendorong peningkatan penyerapan pupuk subsidi sebesar 31 persen pada kuartal I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Komisaris Utama Pupuk Indonesia, Sudaryono, menambahkan transformasi dan revitalisasi yang dijalankan perusahaan telah memperkuat fondasi industri pupuk nasional sekaligus membuka peluang Indonesia memainkan peran lebih besar dalam menjaga keseimbangan pasokan pupuk global.
“Porsi pupuk dalam negeri pasti akan dipenuhi terlebih dahulu. Namun, dengan terganggunya pasokan global, banyak negara kini membutuhkan urea dari Indonesia. Kita adalah salah satu produsen urea terbesar di dunia, dan ini menjadi peluang sekaligus tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan pasokan,” ujarnya.
Ke depan, Pupuk Indonesia menegaskan akan terus memperkuat transformasi perusahaan agar mampu menyediakan pupuk yang semakin mudah diakses dan terjangkau, dengan dukungan industri yang efisien, tangguh, dan berkelanjutan.(*/Red)


