![]() |
| Momentum pencairan THR memiliki lonjakan scam yang tinggi |
JAKARTA, KP - VIDA meluncurkan kampanye edukasi publik bertajuk “Jangan Asal Klik” untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko penipuan digital menjelang pencairan Tunjangan Hari Raya (THR). Kampanye ini bertujuan mendorong literasi anti-scam di tengah meningkatnya aktivitas transaksi digital selama Ramadan hingga Lebaran.
Peluncuran kampanye tersebut turut dihadiri Direktur Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Teguh Afriyadi, Chief Operating Officer VIDA Victor Indajang, serta Director of Public Affairs VIDA Chaerany Putri di Jakarta, Selasa (10/3).
Dalam kesempatan tersebut, VIDA juga meluncurkan whitepaper bertajuk “VIDA 2026 SEA Digital Identity Fraud Outlook” yang mengungkap bahwa lonjakan penipuan digital kerap terjadi pada periode pencairan dana massal, seperti saat pembayaran THR. Pada periode ini, transaksi digital masyarakat meningkat tajam sehingga menciptakan kondisi yang sering dimanfaatkan pelaku untuk menyisipkan modus penipuan yang terlihat meyakinkan.
Selain momentum THR, laporan tersebut juga menyoroti pola berulang yang disebut “payday pulse”, yakni peningkatan risiko penipuan yang hampir selalu terjadi setiap bulan pada rentang tanggal 25–28, bertepatan dengan periode pencairan gaji.
Teguh Afriyadi mengatakan tren penipuan digital saat ini sangat dipengaruhi momentum tertentu serta kebiasaan pengguna yang kerap langsung mempercayai pesan tanpa melakukan verifikasi.
“Setidaknya ada sekitar 1.700 laporan terkait scam setiap hari. Polanya meningkat dan sangat bergantung momentum—biasanya menjelang Lebaran, Natal, dan libur sekolah. Salah satu pemicunya adalah kebiasaan masyarakat yang terlalu cepat percaya tanpa verifikasi kebenarannya,” ujarnya.
Data dari platform CekRekening.id mencatat bahwa penipuan paling banyak terjadi melalui aplikasi pesan dan media sosial. Pada periode 2017 hingga 31 Oktober 2025, tercatat 396.691 laporan terkait rekening atau e-wallet yang diduga digunakan untuk penipuan melalui aplikasi pesan, sementara 281.050 laporan terjadi melalui media sosial.
Menurut Victor Indajang, modus penipuan digital kini berkembang semakin terorganisir dan tidak lagi dilakukan secara individual.
“Di periode pencairan THR, satu tautan palsu yang terlihat meyakinkan bisa memicu account takeover atau pencurian data dalam hitungan detik. Siapa pun bisa terjerat. Karena itu, ‘Jangan Asal Klik’ kami kemas dalam format video edukatif yang ringan dan mudah dipahami, menargetkan lintas generasi, terutama generasi muda yang aktif di media sosial dan aplikasi pesan singkat,” katanya.
Kampanye ini juga sejalan dengan peringatan dari Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia terkait meningkatnya berbagai modus penipuan digital, mulai dari phishing, investasi bodong, hingga penyalahgunaan dokumen digital yang tampak resmi.
Data OJK menunjukkan kerugian masyarakat akibat penipuan digital mencapai sekitar Rp9,1 triliun berdasarkan lebih dari 400 ribu laporan selama periode November 2024 hingga akhir 2025.
Melalui kampanye “Jangan Asal Klik”, VIDA mengajak masyarakat membangun kebiasaan digital yang lebih aman, di antaranya tidak mengklik tautan dari pesan tidak dikenal, tidak membagikan OTP atau PIN, mewaspadai file APK mencurigakan, serta selalu memverifikasi permintaan transfer dana meskipun mengatasnamakan orang terdekat.
Selain edukasi, VIDA juga menerapkan pendekatan multi-layer defense dalam keamanan digital dengan menghadirkan solusi autentikasi tambahan seperti FaceToken dan PhoneToken, yang memanfaatkan verifikasi biometrik dan perangkat untuk memperkuat perlindungan akses akun digital.(*/Red)

.jpg)
