PONTIANAK, KP — Suasana hangat namun tegas menyelimuti ruang pertemuan Hotel Mercure Pontianak pada Sabtu malam (6/12/2025), ketika kegiatan Revitalisasi BKM sebagai Tempat Layanan Umat memasuki sesi penutup. Materi terakhir yang disampaikan oleh Kabid Urusan Agama Islam Kanwil Kemenag Kalbar, H. Mi’rad, S.Ag., M.A.P., menghadirkan paparan yang lugas, kritis, sekaligus sarat sentilan edukatif. Meski bernada serius, penyampaiannya tetap mengalir dan berhasil membuat ruangan lebih hidup.
Mi’rad mengawali paparan dengan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap realisasi anggaran Bidang Urais. Ia memaparkan rincian output setiap satuan kerja, capaian kabupaten dan kota, hingga titik-titik yang perlu diperbaiki. Menurutnya, anggaran bukan sekadar rangkaian angka, melainkan cerminan kinerja nyata di lapangan. Ketelitian dalam pengelolaan anggaran, tegasnya, menjadi fondasi perbaikan layanan umat.
Kabar baik datang saat Mi’rad mengungkap bahwa pada tahun 2026, empat lokasi di Kalimantan Barat telah masuk dalam daftar pembangunan Gedung KUA melalui skema SBSN, yaitu Kabupaten Melawi, Sanggau, Sintang, dan Ketapang. Ia juga mengingatkan adanya penyesuaian nomenklatur baru, di mana fasilitas gedung Balai Nikah dan Manasik Haji kini berubah menjadi Gedung Balai Nikah dan Layanan Keagamaan. Sementara untuk tahun 2027, sudah diajukan 11 titik pembangunan, namun baru tiga lokasi yang dinyatakan lolos. Meski begitu, pembaruan terakhir membuka peluang bertambahnya sembilan titik lagi karena sejumlah KUA dinilai memenuhi syarat. Menurutnya, peluang tersebut akan menjadi kerugian besar jika hanya dilewatkan begitu saja. “Sayang sekali kalau hanya ditonton,” ujarnya mengingatkan.
Kepada seluruh Kasi Bimas Islam, Mi’rad menekankan pentingnya melakukan inventarisasi KUA yang layak mendapatkan program SBSN. Ia menggarisbawahi bahwa proses pengusulan membutuhkan waktu dua tahun, sehingga keterlambatan pengajuan meski hanya sebulan dapat menggeser peluang hingga tahun anggaran berikutnya. Selain proyek fisik, pada 2026 KUA juga direncanakan menerima sarana prasarana dan meublair berbasis PNBP. Meski alokasinya terus menurun akibat meningkatnya jumlah masyarakat yang menikah di kantor KUA dibandingkan di luar kantor, ia menyebut fenomena itu sebagai ironi yang justru membahagiakan.
Bimas Islam juga tengah menyiapkan program pembangunan KUA Excelen bagi satu KUA dengan jumlah peristiwa nikah tertinggi di setiap provinsi. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan dan memberikan apresiasi bagi KUA yang menunjukkan kinerja optimal.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang sesi berlangsung. Para ASN Kanwil Kemenag Kalbar, Kasi Bimas Islam kabupaten dan kota, Ketua BKM, Kepala KUA, hingga penyuluh agama aktif memberikan tanggapan, bahkan beberapa peserta melontarkan usulan spontan mengenai perlunya revitalisasi ruang dan meublair kerja Bimas Islam. Usulan yang disampaikan dalam suasana santai itu menjadi cerminan dukungan sekaligus satire halus bahwa revitalisasi tidak hanya untuk umat, tetapi juga bagi para pelayan umat.
Kegiatan ditutup dengan optimisme bersama, bahwa layanan KUA dan BKM di Kalimantan Barat akan semakin kuat, rapi, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat. Di Mercure malam itu, data, kritik, dan harapan menyatu menjadi dorongan baru bagi peningkatan mutu layanan keagamaan di masa mendatang.(*/Red)

