Fenomena Pura-Pura Bekerja, Wells Fargo Pecat Puluhan Karyawan

Ilustrasi perangkat mouse jiggler, sumber : wikipedia


SAN FRANSISCO, KP - Praktik berpura-pura bekerja kembali menjadi sorotan setelah puluhan mantan karyawan Bank Wells Fargo diketahui menggunakan perangkat khusus untuk mensimulasikan aktivitas kerja di komputer. Perusahaan jasa keuangan asal Amerika Serikat itu mengambil langkah tegas dengan memecat seluruh karyawan yang terbukti menggunakan alat tersebut.

Perangkat yang dimaksud dikenal dengan sebutan mouse jiggler, yakni alat yang membuat kursor mouse bergerak secara otomatis sehingga komputer terlihat aktif. Dengan bantuan alat ini, sistem komputer tidak masuk ke mode tidur meskipun pengguna sebenarnya tidak sedang bekerja. Aktivitas palsu tersebut membuat karyawan seolah-olah tetap produktif di hadapan sistem pemantauan perusahaan.

Menanggapi temuan tersebut, Wells Fargo menegaskan tidak akan mentoleransi praktik yang dinilai tidak etis. “Wells Fargo memiliki standar tinggi untuk karyawan dan tidak menoleransi perilaku tidak etis,” ujar juru bicara perusahaan, seperti dikutip dari Quartz.

Penggunaan mouse jiggler sejatinya bukan fenomena baru. Alat ini mudah ditemukan di pasaran dan sempat populer pada masa pandemi Covid-19, ketika kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) diterapkan secara luas. Dalam kondisi tersebut, banyak karyawan tidak berada di bawah pengawasan langsung atasan, sehingga sebagian memilih menggunakan alat bantu untuk menciptakan kesan tetap bekerja.

Sejak beberapa tahun terakhir, sistem kerja jarak jauh memang terus menjadi perdebatan. Pihak yang menentangnya menilai WFH berpotensi menurunkan keterlibatan dan produktivitas karyawan karena minimnya pengawasan langsung. Kasus Wells Fargo kembali memunculkan kekhawatiran tersebut, terutama di kalangan perusahaan besar yang mengandalkan sistem digital untuk memantau aktivitas kerja.

Di sisi lain, data global menunjukkan persoalan keterlibatan karyawan bukan isu sepele. Laporan State of the Global Workplace yang dirilis Gallup mengungkapkan bahwa sebanyak 62 persen pekerja di seluruh dunia tergolong tidak terlibat dalam pekerjaannya, sementara 15 persen lainnya masuk kategori tidak terlibat aktif. Kondisi ini mencerminkan adanya jarak antara pekerja dan organisasi tempat mereka bekerja.

Sejumlah pekerja mengungkapkan rendahnya keterlibatan tersebut dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari pergantian manajer, perubahan jenis pekerjaan, hingga keinginan untuk mencari peluang kerja baru. Dalam situasi seperti itu, sebagian karyawan memilih jalan pintas untuk sekadar “terlihat bekerja”, alih-alih benar-benar terlibat secara aktif.

Kasus pemecatan massal di Wells Fargo menjadi pengingat bahwa kepercayaan dalam hubungan kerja, khususnya di era kerja fleksibel dan digital, tetap menjadi isu krusial. Bagi perusahaan, menjaga integritas dan etika kerja menjadi tantangan tersendiri, sementara bagi karyawan, tuntutan profesionalisme tetap tidak berubah meski pola kerja mengalami transformasi.(*/Red)

Kapuas Post

Kapuas Post merupakan media lokal Kalimantan Barat yang mencoba eksis kembali menjadi media online

Lebih baru Lebih lama

ads

Pasang Iklan Kapuas Post

ads

نموذج الاتصال