Post Top Ad

Teknologi

Nasional

Post Top Ad

HondaOlahraga

Mario Aji Berhasil Raih Poin di Red Bull Rookies Cup Jerman

PONTIANAK - Pembalap Indonesia yang membela Astra Honda Racing Team (AHRT), Mario Suryo Aji, menggasak poin di Red Bull Rookies Cup 2021 seri Jerman.



Setelah MotoGP Jerman 2021 selesai diselenggara, giliran ajang Red Bull Rookies Cup 2021. Race 2 Red Bull Rookies Cup di Sirkuit Sachsenring Jerman berlangsung Minggu (20/6/2021) malam WIB.

Pembalap Indonesia Mario Suryo Aji pun kembali ke lintasan meski sempat jatuh saat melakoni Race 1.

Pada Race 1 Red Bull Rookies Cup, Mario Aji crash di tikungan 8 saat sisa 5 lap, Sabtu (19/6/2021).

Mario Aji DNF kedua kalinya setelah sebelumnya ia terjatuh di Race 2 Red Bull Rookies Cup seri Mugello, Italia.

Podium utama Race 1 Red Bull Rookies Jerman disabet David Alonso.

Namun pada Race 2, Mario Aji tampil lebih agresif dan berhasil bertahan di baris terdepan. Akhirnya Mario Aji berhasil finis posisi ke-7.

Sedangkan Race 2 Red Bull Rookies Cup Jerman dimenangkan Matteo Bertelle.

"Terimakasih Jerman! Liburan yang menyenangkan, tetap semangat. Akan lebih kuat di Portimao, tunggu saja," tulisnya pada akun Instagram @mariosuryoaj1.

Dengan begitu, Mario Aji berhasil menambah 9 poin dari Red Bull Rookies Cup Jerman.

Dengan begitu, pembalap Indonesia itu berhasil mengumpulkan 45 poin sepanjang musim Red Bull Rookies Cup 2021.

Akibat seri Finlandia dibatalkan, Red Bull Rookies Cup 2021 akan berlanjut bulan Agustus mendatang di sirkuit Red Bull Ring, Austria.

Mario Suryo Aji kian dikenal publik Indonesia usai menjadi pembalap RI pertama yang mampu raih pole position di CEV Moto3. Keberhasilan ini merupakan buah dari kerja kerasnya selalu mengasah bakatnya, sejak usia 6 tahun hingga sekarang.

Ya, ketika anak-anak seusianya hanya menghabiskan waktu dengan sekolah dan bermain, Mario sudah turun balapan. Orang tua pebalap asal Magetan ini bahkan sudah memberi dukungan penuh kepadanya kala itu.

"Sejak kecil, saya memang bercita-cita jadi pebalap dan sudah akrab dengan dunia balap. Orang tua pun sangat mendukung. Sejak umur 6 tahun, saya sudah mulai turun di ajang balap dan saya pun menyenangi aktivitas ini, sehingga dapat menikmatinya," kata Mario.

Walau begitu, jenis balapan yang ditekuni Mario dahulu berbeda dengan sekarang. Jika kini dirinya berpacu di lintasan aspal, dulu dia menjajal lintasan tanah.

"Pertama kali, saya memulai balapan di motocross, lalu pindah ke balapan on-road. Kemudian, mulai mengikuti Kejurnas dan akhirnya dapat masuk dalam program penjenjangan yang dilakukan PT AHM," ucapnya.

"Dengan menjadi bagian dari AHRT, saya memiliki kesempatan emas untuk mendapatkan mentor terbaik dari sisi skill balap, penguasaan karakter motor dan sirkuit, pelatihan fisik serta stamina terbaik untuk balapan," tambah pebalap yang kini berusia 17 tahun itu.

CEV adalah turnamen balapan yang berfokus pada sirkuit di wilayah Eropa, terutama Spanyol dan Portugal. Banyak pebalap hebat yang lebih dahulu mengasah bakatnya di sini dan kini Mario pun mendapat kesempatan yang sama sejak bergabung ke tim AHRT.

"Saya dapat mengikuti ajang balap bergengsi mulai dari Thailand Talent Cup, Asia Road Racing Championship, Asia Talent Cup sampai akhirnya saya mendapatkan kesempatan dan didukung penuh untuk long stay di Eropa selama 3 tahun dalam mengikuti ajang CEV, sehingga saya bisa semakin fokus berlatih," tuturnya.

CEV adalah salah satu pintu masuk terdekat menuju Kejuaraan Dunia MotoGP. Dimas Ekky Pratama yang sempat berkompetisi di MotoGP kelas Moto2 pada 2017-2019 juga jebolan dari CEV.

"Ajang CEV merupakan gerbang untuk menuju Grand Prix. Banyak rider dunia yang berasal dari sini. Oleh karena itu, level tantangannya pun sangat tinggi. Kejuaraan ini diikuti oleh pebalap potensial dari berbagai negara yang didukung tim-tim besar dan kuat. Jadi, saya pun harus bisa kompetitif dan menunjukan potensi terbaik," tegasnya.

"Sampai saat ini, momen yang tentu paling berkesan di CEV adalah seri Barcelona. Meraih pole position dan bisa konsisten dalam persaingan perebutan juara terasa sangat mengesankan buat saya," lanjutnya.

Joe Roberts, Augusto Fernandez, Iker Lecuona, hingga Luca Marini si murid Valentino Rossi, adalah contoh alumni CEV yang kini eksis di Kejuaraan Dunia MotoGPp. Bedanya, mereka turun di kelas Moto2, sedangkan Mario Suryo Aji di kelas Moto3.

Mario pun menaruh mimpi yang sama. Dia bertekad untuk terus berjuang agar layak bertanding di Kejuaraan Dunia MotoGP suatu saat nanti.

"Tentu saja, mimpi saya bisa balapan di MotoGP. Namun saya sadar, untuk dapat balapan di MotoGP, bukanlah sesuatu yang instan. Jadi, saya perlu berjuang menapaki satu per satu ajang balap yang dapat semakin mendekatkan saya dengan ajang paling bergengsi yaitu MotoGP. Salah satunya, melalui tempaan di ajang balap CEV," katanya.

Mario Suryo Aji sejatinya cukup sibuk pada 2021 ini. Selain turun di ajang CEV, dia juga balapan di Red Bull MotoGP Rookies Cup, ajang satelit MotoGP khsusus pembalap muda.

Mario kini menempati urutan 10 klasemen sementara dari 27 pembalap di Red Bull MotoGP Rookies Cup. Prestasi terbaiknya musim ini adalah finis kelima di Sirkuit Jerez. (*)

Baca Juga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad