SLIDER

header ads

Hotel Santika Tutup Permanen

PONTIANAK - Setelah beberapa lama tak beroperasi pada masa pandemi Covid-19, Hotel Santika Pontianak akhirnya benar-benar tutup. Manajemen Hotel Santika mengumumkan bahwa hotel yang sudah 15 tahun berdiri di ibukota Kalimantan Barat ini tutup permanen mulai Rabu (1/7). Manajemen mengucapkan terima kasih atas kepercayaan para mitra dan tamu, serta segenap karyawan.
Hotel Santika


“Terima kasih untuk kerjasama dan baktinya kepada seluruh karyawan Hotel Santika Pontianak. Segenap manajemen hotel mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya untuk tamu reguler kami yang selama ini tetap setia bersama Hotel Santika Pontianak. Per tanggal 1 Juli 2020 akan ditutup secara permanen,” kata General Manager Hotel Santika Pontianak Ari Perdana dalam laman resminya.
Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kalbar Yuliardi Qamal mengatakan, tutupnya hotel bintang tiga yang dulu pernah menjadi pilihan utama para pebisnis dan pelancong ini salah satunya disebabkan oleh wabah Covid-19 yang menghantam industri perrhotelan. Menurutnya, semua hotel dan rumah makan di dunia, termasuk Pontianak mati suri akibat pandemi virus corona.
Sebagian hotel malah memilih tutup sementara operasionalnya. Sedangkan sisanya merumahkan para karyawan. “Kami hanya mengandalkan jualan makanan dan minuman online saja yang sangat jauh, bahkan untuk menutup biaya listrik saja,” sebut dia.
Kini, kendati sudah memasuki era new normal dengan diizinkan menjual kamar asalkan menerapkan protokol kesehatan, bisnis perhotelan di Pontianak masih jauh dari kata pulih. Dia menyebut Pontianak sebagai kota jasa dan perdagangan sangat dipengaruhi intensitas aktivitas ekonominya. Termasuk hotel di Pontianak sangat bergantung dengan kegiatan event baik dari pemerintah maupun korporat, serta gelaran pernikahan.
“Sebagai kota jasa dan perdagangan dan pusat pemerintahan, hotel di kita memang bergantung dari adanya event-event. Makanya okupansi tertinggi terjadi di weekday (hari kerja),” ungkapnya. Namun, kata dia, Pemkot Pontianak belum mengizinkan adanya event dengan peserta ramai. Selain memang karena kondisi Covid-19 yang membuat iklim bisnis secara umum menjadi surut.
Pihaknya pun mendorong agar pemerintah memberlakukan new normal untuk gelaran meeting, incentive, convention dan exhibition (MICE), dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Apalagi banyak orang yang bergerak di bidang ini, seperti event organizer, penyelenggara pesta pernikahan dan tempat hiburan, katering, penyewaan tenda, sound system, dan lainnya.
Soal protokol kesehatan, Yuliardi Qamal menyebut pihaknya selalu memantau kedisiplinan para anggota. Menurutnya saat ini seluruh hotel di Pontianak sudah menerapkan aturan protokol Covid-19 dari pemerintah dan panduan asosiasi. Apabila ada anggota yang melanggar maka harus siap menerima sanksi. “PHRI tidak akan membela. Saya siap pasang badan untuk dijalankannya aturan new normal. Kita menginginkan new normal, dan wajib menjalankan protokolnya,” ujarnya.
Masalah setting resepsionist, restoran, kamar, hall, hingga pantry dan lainnya pun disusun sesuai prinsip physical distancing. Semua karyawan wajib mengenakan masker selama berada di dalam hotel. PHRI juga mewajibkan para anggotanya untuk menyiapkan fasilitas sabun cuci tangan, hand sanitizer, alat penanda batas jarak, termometer tembak, dan rutin melakukan penyemprotan disinfektan pada area strategis di dalam hotel.
Sementara itu Anggota DPRD Kota Pontianak Zulfydar Zaidar Mochtar berharap bisnis hotel dan pariwisata pada umumnya di kota ini dapat segera kembali normal. Pasalnya hotel dan restoran merupakan salah satu sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Selain itu efek berantainya terhadap sektor UMKM juga besar. Dia mengusulkan agar sektor MICE segera dibuka.
Pandemi Covid-19 membuat hampir semua sektor ekonomi terpukul. Warung kopi, rumah makan dan perhotelan yang sebelumnya dibatasi aktivitasnya kini telah beroperasi seperti biasa, dengan menerapkan protokol kesehatan. Namun sektor yang belum bisa beroperasi masih ada, seperti meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE). Mereka yang bergerak di bidang ini adalah event organizer, penyelenggara pesta pernikahan, tempat hiburan, katering, penyewaan tenda, soundsystem, gedung dan sebagainya.
Zulfydar menyebut, sudah saatnya sektor-sektor tersebut dibuka. Pasalnya mereka sudah hampir empat bulan tak beraktivitas sama sekali. “Perlu dipikirkan bersama bagaimana industri kreatif ini bisa kembali berjalan. Bagaimana pun mereka punya karyawan dan ekonomi yang harus dihidupkan. Protokol kesehatan yang ketat seharusnya bisa diterapkan pada mereka, seperti di sektor lain,” ungkapnya.
Menurut dia, penyelenggara, peserta dan pengunjung event tentu bisa mengikuti protokol yang sudah ada. “Protokol kesehatan dasar seperti cek suhu tubuh maksimal, mencuci tangan dengan sabun, menggunakan masker kalau perlu tambahan face shield serta jaga jarak. Sektor lain bisa melakukannya, seharusnya sektor MICE juga bisa,” imbuhnya.
Zulfydar malah menyarankan Pemkot Pontianak berkolaborasi dengan dunia usaha dan instansi lain menggelar event berskala besar di tempat yang luas untuk memicu kebangkitan bisnis pariwisata dan UMKM.
“Misalnya kita bikin Pekan New Normal Pontianak, Pontianak Fair atau apapun namanya. Tetapi dengan protokol kesehatan. Ajak sektor dunia usaha, karena di saat pandemi sekarang kita tidak bisa sendirian. Karena semua pihak memiliki keterbatasan anggaran, jadi perlu kolaborasi. “Industri MICE dan pariwisata adalah yang paling terdampak pandemi ini. Mereka tentu harus dibantu untuk bangkit. Kami mendorong agar EO, wedding organizer, dan tempat hiburan, tempat wisata dan lainnya bisa kembali normal,” pungkasnya.(*)

Posting Komentar

0 Komentar