PONTIANAK – Kejutan terjadi di babak 32 besar polytron Pontianak Indonesia Masters 2026. Tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting, harus mengakhiri langkahnya lebih awal setelah dikalahkan wakil Chinese Taipei, Ju-Sheng Cheng, dua gim langsung 15-21, 17-21 di GOR Terpadu Ahmad Yani Pontianak, Rabu (2/9/2026).
Ginting menjadi salah satu pemain yang paling dinantikan publik Pontianak. Dukungan penonton yang memadati tribun pun terdengar sepanjang pertandingan. Namun, dukungan tersebut belum mampu mengangkat permainan Ginting yang kesulitan menemukan ritme terbaiknya.
Sejak gim pertama, Ginting terlihat belum mampu mengembangkan pola permainan secara konsisten. Beberapa kali ia sempat menemukan cara untuk memberikan tekanan kepada lawan, tetapi permainan tersebut tidak bertahan lama.
Usai pertandingan, Ginting mengaku bersyukur dapat menyelesaikan laga dengan kondisi selamat tanpa mengalami cedera. Namun, ia mengakui hasil yang diraih tidak sesuai harapan.
“Pertama-tama mengucap syukur hari ini bisa menyelesaikan pertandingan dengan selamat. Di laga pertama ini musuh memang bermain cukup baik. Sebaliknya, saya banyak melakukan kesalahan sendiri dan kurang bisa menemukan ritme serta strategi yang tepat di lapangan,” ujar Ginting.
Menurutnya, persiapan strategi sebenarnya sudah dilakukan sebelum pertandingan. Bahkan, ia telah memiliki gambaran mengenai pola permainan yang akan diterapkan menghadapi Ju-Sheng Cheng.
Persoalan justru muncul ketika pertandingan berlangsung. Ginting kesulitan mempertahankan pola permainan yang sudah direncanakan sehingga performanya terlihat naik turun sepanjang laga.
“Semalam sebenarnya sudah ada gambaran hari ini mau main apa. Cuma tadi begitu di lapangan, dari awal sampai akhir sempat ketemu caranya, tapi habis itu hilang lagi. Gitu terus sepanjang pertandingan. Kuncinya memang di situ,” katanya.
Selain persoalan konsistensi, kondisi pertandingan di Pontianak juga menjadi bagian dari proses adaptasi Ginting. Turnamen ini menjadi penampilannya kembali di level BWF World Tour Super 100 setelah sebelumnya lebih banyak menghadapi persaingan di level yang berbeda.
Ginting mengakui kondisi tersebut cukup terasa ketika berada di lapangan. Ia menilai para pemain lain yang lebih sering tampil di level International Challenge maupun Super 100 memiliki pengalaman adaptasi yang lebih baik terhadap karakter pertandingan.
“Cukup berasa juga hari ini di lapangan. Ini kan pertama kali saya baru main di level Super 100 lagi, sementara pemain lain kebanyakan sudah terbiasa main dari level Challenge. Tapi sisanya tidak ada masalah, semua aman sama kayak biasanya,” ungkapnya.
Kekalahan tersebut membuat Ginting gagal melanjutkan perjuangannya di hadapan publik Pontianak. Sementara itu, Ju-Sheng Cheng berhak melaju ke babak 16 besar.
Ju-Sheng Cheng saat ini tercatat berada di peringkat 106 dunia BWF dan cukup sering tampil pada turnamen level International Challenge. Keberhasilannya menundukkan Ginting menjadi salah satu kejutan pada babak awal Indonesia Masters 2026.
Bagi Ginting, pertandingan di Pontianak menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki konsistensi, menemukan kembali ritme permainan, serta meningkatkan kemampuan beradaptasi ketika menghadapi kondisi pertandingan yang berbeda.
Dukungan besar dari penonton Pontianak akhirnya belum mampu membawa Ginting melangkah lebih jauh. Namun, pengalaman tersebut menjadi catatan penting bagi tunggal putra Indonesia tersebut untuk kembali membangun performa terbaiknya pada turnamen berikutnya. (Rif)